Integritas Socrates
Rabu, 22 Januari 2020
2 Komentar
Ditulis Oleh Dadang Harianto.
Socrates sendiri adalah filsuf Yunani pertama
yang lahir sebagai warga Athena pada sekitar 470 SM dan meninggal sekitar 399
SM. Meskipun sebagai seorang filsuf dan guru, Socrates tidaklah begitu mahir
menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam bentuk tulisan, bahkan dapat disebut
ia hampir tidak pernah berfilsafat dengan cara menulis.
Ia hanya hadir sebagai seorang pendialog yang
kritikal yang hanya mendokumentasikan material-material dalam kaitannya dengan
apa yang diwacanakannya dalam lingkup Filsafat [apa Hukum dan keadilan itu?
bagaimana hukum dan keadilan harus didefinisikan dan dipisahkan pada
masing-masingnya? apakah keadilan yang menjadi aspek fundamental bagi hukum?
dan seterusnya] yang ada dipemikirannya, untuk pada gilirannya akan
diperdebatkan secara langsung dengan siapapun yang ia temui sepanjang lorong
dan alun-alun kota Athena.
Ketika pertanyaannya dijawab oleh seseorang,
maka Socrates akan terus mengejar orang yang bersangkutan dengan pertanyaaan
’to ti’ (apa itu? kok bisa begitu? apa maksudnya? dan seterusnya), hingga
sebuah jawaban pun dapat dirumuskan secara tegas dan lugas, tanpa sama sekali
menyisakan kemungkinan bagi ruang penafsiran ganda atau beragam.
Cara bertanya Socrates dalam mencari jawaban
ini menjadi terkenal dan sering disebut ”Socratik Method”. Efeknya seperti
menjatuhkan dua burung dengan satu lemparan batu. Di satu pihak, cara ini
memperlihatkan ketidaktahuan orang-orang yang merasa diri tahu, namun nyatanya tidak
lebih banyak tahu dari yang diketahui Socrates. Di pihak lain, cara ini juga
membangkitkan minat para pengamat terhadap pertanyaan filosofis yang
fundamental, yang kemudian menarik mereka untuk ikut berdiskusi tentang
persoalan itu. Oleh sebab itu, Socrates juga dikenal sebagai orang pertama yang
meletakkan fondasi bermetode dalam tradisi logika. Dengan menitikberatkan pada
dialog dan argumen-argumen rasional, ia juga mengembangkan metode-metode dalam
penalaran untuk mendemonstrasikan asas-asas logika, yang oleh mereka sering
disebut dengan terminologi ’dialektika’.
Dialektika Socrates ini ternyata menyebabkan
dirinya sebagai sumber pengaruh yang subversif/makar. Ia mengajari orang untuk
mempertanyakan segalanya, ia juga menelanjangi ketidaktahuan para penguasa.
Akhirnya, penguasa menangkap Socrates dengan tuduhan telah menyesatkan kaum
muda dan tidak percaya kepada dewa-dewa Athena. Ia dibawa ke meja pengadilan
dan dihukum mati dengan cara minum racun.
Filsafat Socrates sebenarnya justru banyak
membahas masalah-masalah etika. Ia beranggapan bahwa yang paling utama dalam
kehidupan bukanlah kekayaan atau kehormatan, melainkan kesehatan jiwa.
Prasyarat utama dalam hidup manusia adalah jiwa yang sehat agar tujuan-tujuan
hidup lainnya dapat diraih. Tujuan hidup yang paling utama adalah kebahagiaan
(eudaimonia), yang berarti kesempurnaan. Jalan atau cara untuk mencapai
kebahagiaan adalah arete (kebajikan). Orang yang bajik adalah orang yang mampu
hidup bahagia.
Salah satunya adalah keyakinan bahwa bagi
orang menjaga integritas pribadinya, tidak pernah ada kemalangan yang nyata dan
berlangsung lama. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Orang sewaktu-waktu
bisa kehilangan harta miliknya, dijebloskan ke penjara meski tidak bersalah,
mengalami kecelakaan atau terserang penyakit. Namun, semua itu hanyalah serba
kebetulan belaka dalam kefanaan eksistensi manusia yang hanya sekelebatan dan
pasti segera berakhir ini. Sejauh jiwa tetap tak terusik, kemalangan tidak
terlalu berarti. Bencana yang sebenar-benarnya adalah pembusukan jiwa. Itulah
sebabnya orang yang menderita akibat ketidakadilan sebetulnya tidak terlalu
menderita dibandingkan orang yang melakukan ketidakadilan itu.

saran kku sodara,selain pikirannya alangaka lebi baiknya di cantumkan sedikit sikap dari dia,seperti kan dia di hukum mati,sedangkan bnyak muridnya yg menawarkan bantuan,dan dia monal hal tersebut karna kekonsisten terhadap pikirannya,jdi dalam tulisan mmu dpt mmi di ambil daribpikiran dapat ttong mmi dari sikapnya ,sarann ji sodara
BalasHapusMaksi Sarannya Sodara.
Hapus