Bagaimana Interpretasi Hermeneutika.?
Sabtu, 25 Januari 2020
1 Komentar
Ditulis Oleh Dadang Harianto.
Penerapan Hermeneutika.
Di kota Yunani. Ada mitologi yang berlaku dikalangan
masyarakatnya. Tokoh mitologi itu adalah Hermes. Hermes diyakini sebagai
seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia.
Hermes dilukiskan layaknya sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayap dan
lebih banyak dikenal dengan sebutan Merkurius dalam bahasa latin.
Hermes bertugas menterjemahkan pesan-pesan dari Dewa di gunung
Olympus ke dalam bahasa yang dimengerti oleh manusia. Fungsi Hermes sangat
penting, sebab bila terjadi kesalahpahaman (misunderstanding) tentang pesan Dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh
umat manusia.
Hermes inilah kemudian diturunkan menjadi kata benda “Hermeneia”
yang secara harfiah diartikan sebagai penafsiran/ interpretasi, lalu membentuk
kosa-kata Hermeneutika. Dalam kosa-kata kerja, ditemukan istlah Hermeneuo, Hermeneuein, Hermeneuo artinya
mengungkapkan pikiran-pikiran seorang dalam kata-kata, dan Hermeneuein bermakna
mengartikan, menafsirkan atau menerjemahkan dan juga bertindak sebagai
penafsir. Dalam arti yang sederhana Hermeneutika, merupakan usaha untuk beralih
dari sesuatu yang relatif gelap ke sesuatu yang lebih terang.
Disiplin ilmu pertama, banyak menggunakan Hemeneutik adalah ilmu
tafsir kitab suci. Semua karya yang mendapatkan inspirasi Ilahi seperti
Al-qur’an, kitab Taurat, kitab-kitab Veda dan Upanishad supaya dapat dimengerti
memerlukan interpretasi.
Teks sejarah yang dituliskan dalam bahasa yang rumit. Beberapa
Abad tidak dipedulikan oleh pembacanya. Tidak dapat dipahami dalam kurun waktu
seorang tanpa penafsiran yang benar. Istilah-istlah yang dipakai mungkin ada
kesamaannya, tetap arti atau makna istilah itu bisa berbeda. Perang pada zaman
dahulu dengan perang zaman sekarang pada hakikatnya adalah sama saja. Perang
Troya maupun taktik Hanibal hanya dapat diapresiasikan dalam kurun waktu mereka
sendiri. Seperti orang-orang nomad berperang karena mereka memperebutkan sumber
air.
Demikian halnya dengan interpretasi terhadap Hukum, selalu
berhubungan dengan isinya. Setiap hukum mempunyai dua segi yakni yang tersurat
dan yang tersirat, atau bunyi hukum dan semangat hukum. Dalam menerjemahkan
pasal-pasal, adalah bahasa menjadi instrumen penting untuk mengetahui makna dibalik
teks pasasl-pasal itu. Subtilitas
intelligendi (ketepatan pemahaman)
dan subtilitas explincandi (ketepatan penjabarannya) adalah sangat relevan bagi
hukum.
Dalam ruang lingkup kesusasteraan, kebutuhan tentang hermeneutik
sangatlah ditekankan. Tanpa interpretasi atau penafsiran, pembaca tiak akan
mengerti atau menangkap jiwa zaman dimana kesusasteraan itu dibuat. Siapa yang
tidak tahu karya Shakespeare ? yang selalu ditafsirkan berbeda diantara
zamannya.
Dalam bidang Filsafat, terpenting lagi, Hermeneutika amat berperan.
Bukankah pada kenyataannya, keseluruhan Filsafat adalah interpretasi,
pembahasan seluruh isi alam semesta ke dalam bahasa kebijaksanaan manusia
merupakan kerja interpretasi. Jelaslah bahwa kembalinya minat hermeneutik
terletak di dalam Filsafat. Namun dalam Filsafat tidak ada aturan baku untuk
melakukan interpretasi, seperti yang terjadi dalam lingkup kesusasteraan.
Bagaimana interpretasi yang dimainkan oleh Aritoteles terhadap gurunya
Plato? Aristoteles yang menyatakan dalam bukunya yang berjudul Politik “Amicus Plato Sed Magis Amica Vertas” (Plato
adalah seorang sahabat, tetapi sahabat yang lebih akrab lagi adalah kebenaran). Artinya menurut Aristoteles di sini belum mengajarkan
kebenaran sebagaimana yang diinginkan oleh Aristoteles.
Mungkin saja, Aristoteles “sedikit” kurang tahu jasa dan
budi Plato, seperti yang pernah dikemukakan oleh Alfred North Whithead seorang
matematikawan Inggris yang menjadi seorang filsuf. Ia menulis tentang aljabar,
logika, dasar matematika, filosofi ilmu pengetahuan, fisika, metafisika dan
pendidikan, bahwa “seluruh Filsafat barat tidak lain adalah catatan kaki
filsafat Plato”
Tidak bisa dinafikkan bahwa cara pandang berbeda terhadap Plato
melalui hermeneutika, makna dapat saja berbeda berdasarkan siapa yang
menafsirkannnya, keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu, tempat, ataupun
situasi yang dapat mewarnai arti sebuah peristiwa bahasa. Karena mindset dan volume
otak orang sangatlah berfariasi.
“Bagiku Sahabat itu Ibarat Ingus yang Senantiasa Hadir Menyertai Tangisan.”(Dadang Harianto).

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus