Jas Merah (Catatan Hitam G 30 S PKI)

 

Ditulis Oleh Dadang Harianto.

JAS MERAH

Catatan Hitam G 30 S PKI

 Era industri membawa perubahan gaya hidup. Terutama bagi generasi milineal zaman now (sekarang). Pesatnya perkembangan teknologi membawa arus informasi demikian cepatnya. Sesuatu yang baru menjadi incaran. Akan tetapi berita, sejarah, cerita yang telah lampau menjadi sebuah masa lalu yang enggan untuk dijamah. Padahal dari sejarah kita dapat memetik hikmah dan pelajaran berharga. Meminjam istilah Presiden RI Pertama, Ir Soekarno, yang mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah). Bahkan kitab suci Al-Qur’an, sebagian besar isinya adalah sejarah.

Ironinya, generasi zaman now nampaknya enggan untuk mempedulikan sejarah.  Terutama sejarah bangsa sendiri. Sejarah perjuangan bangsa hingga kemerdekaan Indonesia. Sejarah para founding fathers kita  dalam rangka mempertahankan kemerdekaan bangsa dari rongrongan pihak-pihak yang hendak merebut kembali kemerdekaan. Rongrongan juga datang dari penghianat yang hendak mengambil keuntungan sendiri dan kelompoknya. Tanpa mempedulikan kepentingan rakyat dan keselamatan bangsa.

Hal tersebut nampak dari sebuah pernyataan yang terlontar dari seorang Dosen  Perguruan Tinggi Negeri (PTN) nomor wahid di Kabupaten Bone, kampus yang saya tempati melanjutkan pendidikan.  Ia menuturkan keheranannya atas ketidaktahuan generasi zaman now yang diwakili mahasiswanya akan Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi sejarah di balik itu.

Sang Dosen pun tak habis pikir ada apa dengan generasi muda zaman now yang dangkal sekali pemahaman pengetahuannya tentang sejarah bangsa sendiri. Beliau pun melanjutkan dalam sebuah sesi ujian mata kuliah tertentu (sebut saja, Civic Education) dari kurang lebih 100 mahasiswanya di semester 2, hanya ada 2 orang yang bisa menjawab pertanyaan tentang Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei ini.

Sehubungan dengan hal di atas, mahasiswa lainnya pun tak banyak yang tahu ketika saya bertanya tentang salah satu peristiwa sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa yang telah “menguji” ideologi Pancasila dengan gugurnya 7 Pahlawan Revolusi. Peristiwa Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia Tahun 1965 (untuk selanjutnya disingkat G 30 S PKI). Ironinya, komentar mereka sungguh di luar dugaan dan lebih bernuansa politis dibanding fakta sejarah yang mengemuka di balik peristiwa tersebut.

Ketika saya lanjutkan bertanya lebih detil tentang kronologis,  korban para pahlawan revolusi dan pengetahuan latar belakang yang melatar belakangi peristiwa tersebut, mereka hanya diam seribu bahasa. Artinya mereka lebih tertarik mengamati komentar orang lain dalam media sosial atas peristiwa G 30 S PKI tanpa terlebih dahulu berusaha mengetahui peristiwa tersebut, menyerap informasi secara mendalam, obyektif, arif dan bijaksana.

Dialog singkat di awal kuliah Civic Education ketika membahas bab ideologi, membuat saya akhirnya menayangkan film G 3 S PKI. Ini merupakan trik jurus melawan lupa akan peristiwa G 30 S PKI yang telah menorehkan sejarah kelam perjalanan bangsa anak negeri.  Film yang berdurasi 3 jam lebih ini ditayangkan di beberapa kali pertemuan. Tentunya tidak ditayangkan secara utuh. Mengingat keterbatasan waktu. Dengan disisipi berbagai pertanyaan dan diskusi terkait materi mata kuliah Civic Education.

Di akhir kuliah saya berusaha memberikan feed back terhadap pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah Penghianatan G 30 S PKI ini. Terdapat perbedaan sikap dan jawaban dari mahasiswa yang semula “menolak” menjadi lebih arif dalam menanggapi.

Animo mahasiswa ketika melihat film G 30 S PKI beragam. Ada yang sangat antusias namun ada juga justru menolak dengan bahasa tubuh yang enggan melihat film tersebut. Film G S PKI yang telah melalui riset sekian tahun dan akhirnya sutradara memfilmkannya cukup memberikan gambaran kronologis latar belakang sejarah di balik peristiwa tersebut.

Film diawali lokasi monumen Pancasila Sakti lengkap dengan patung ketujuh Pahlawan Revolusi beserta  sumur lubang buaya dan relief di dinding museum kekejaman PKI saat mengeksekusi para para Pahlawan Revolusi. Adegan di museum lubang buaya diakhiri dengan sumur kecil tempat para Pahlawan Revolusi dikuburkan oleh PKI dengan sebuah pernyataan yang berbunyi, “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila, tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini.”

Aksi-aksi kekejaman PKI sebelumnya dalam sejarah Indonesia juga dimunculkan dalam film ini. Antara lain, ketika ribuan orang PKI menyerang jamaah seusai sholat subuh dan menginjak-injak kitab suci Al-Qur’an di sebuah Islamic Center di desa Kanigoro, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Januari 1965. Kemudian dilanjutkan dengan bukti klipingan koran yang memberitakan beberapa tindakan sadis PKI di beberapa wilayah di Indonesia.

Latar belakang sosiologis juga cukup digambarkan dalam film ini. Mulai dari kemiskinan yang melingkupi sebagian besar rakyat Indonesia. Digambarkan dengan antri membeli minyak tanah dan kelangkaan beras melalui dialog salah satu keluarga.

Kondisi sakitnya Ir. Soekarno pemimpin besar revolusi yang juga Presiden pertama Indonesia  pun digambarkan secara gamblang dalam film tersebut.  Tim medis dari RRC dalam salah satu dialog dengan D.N. Aidit, hasil analisis medisnya menyimpulkan sakit Bung Karno dengan dua kata singkat, yakni dapat menyebabkan kelumpuhan atau kematian. D.N. Aidit ini  dalam film ini kemudian dikenal sebagai lakon utama di balik peristiwa Pengkhianatan G 30 S PKI dan terbunuhnya para Pahlawan Revolusi.

“Jika presiden sakit, maka negara ikut sakit,” kata Aidit dalam sebuah dialog di film tersebut. Kondisi sakit permimpin nomer satu negeri ini dimanfaatkan oleh beberapa pentolan PKI  untuk membuat isu “Dewan Jenderal’. Hingga akhirnya terbunuhnya para jenderal putra terbaik bangsa dan dikubur dalam sebuah sumur di lubang buaya.

Pascapembunuhan beberapa perwira TNI AD, PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan. Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.

Di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, PKI membunuh Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi. Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jenderal PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.

Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama "Tribune".

Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Soviet BrezhnevMikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik. Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan. Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."

Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara.

Minimal dari film tersebut kita bisa melihat latar belakang sosiologis yang ditandai dengan kemiskinan rakyat Indonesia, presiden yang sedang sakit yang kemudian didaulat negara pun ikut sakit, semakin memuluskan PKI menjalankan rencananya. Berbagai rapat internal pentolan PKI di tanggal sebelum peristiwa 30 September 1965 tertulis jelas di film tersebut. Hingga hari “bertindak” pun (30 September 1965) ditayangkan dari kediaman 7 Pahlawan Revolusi (Jenderal Ahmad Yani, Jenderal R. Soeprapto, Jenderal M.T. Harjono, Jenderal S. Parman, Jenderal D.I. Panjaitan, Jenderal Soetojo Siswomihardjo, Perwira Pertama Pierre Tendean). Turut pula gugur dalam peristiwa tersebut putri Jenderal Abdul Haris Nasution, Ade Irma Suryani.

Para isteri pahlawan revolusi, anak-anak mereka, dan penghuni rumah lainnya menjadi saksi proses pembunuhan atau diculik para jenderal ini. Jenderal A. Yani ditembak mati di depan anak laki-lakinya. Demikian pula dengan Jenderal D.I Panjaitan yang ditembak di bagian belakang kepalanya oleh PKI di teras depan rumahnya yang disaksikan oleh Catherine, putri beliau. Isteri salah satu Pahlawan Revolusi pun menjadi saksi suaminya ditembak mati hingga ia sendiri yang membersihkan genangan darah suaminya di lantai dan pintu kediaman mereka dan berbagai kebiadaban PKI tergambar dalam film ini. Termasuk penyiksaan dan eksekusi kepada para Pahlawan Revolusi di lubang buaya. Dengan diiringi tarian genjer-genjer dari Gerwani, 4 Pahlawan Revolusi mengalami penyiksaan yang luar biasa sadisnya. Sementara 3 Pahlawan Revolusi sudah ditembak mati di kediaman masing-masing.

Potret kebiadaban komunis juga ditorehkan pada sejarah dunia. Dalam tulisannya, Adian Husaini (Republika, 17/9/2018), tokoh komunis dunia, Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) menyatakan: “Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi sekarang ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”

Adian Husaini melanjutkan Lenin bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai setengah juta bangsanya sendiri. Dilanjutkan Joseph Stalin (1925-1953) yang menjagal 46 juta orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot (Kamboja) 2,5 juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa (1978-1987).

Kembali menyoal fakta sejarah yang ditampilkan di film Pengkhianatan G 30 S PKI  diakhiri dengan proses pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi dari sumur tua dan sempit di lubang buaya. Jenazah ketujuh Pahlawan Revolusi diangkat oleh tim amphibi. Beberapa petugas yang berada di sekitar sumur terlihat dalam film itu menutup hidung mereka. Terlihat pula lalat yang hinggap di jari salah satu jenazah. Ini menunjukkan bagaimana kondisi jenazah. Ditambah dengan penyiksaan sebelum dimasukkan dalam sumur di lubang buaya ini.  Pemirsa ditampilkan secara utuh dan gamblang bagaimana kondisi jenazah para Pahlawan Revolusi yang sudah tidak dikenali kecuali dari pakaian yang mereka kenakan terakhir kali. Dalam film juga ditampilkan suara asli Mayjen Soeharto saat jenazah diangkat dari sumur di lubang buaya 4 Oktober 1965.

Tepat Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang diperingati tanggal 5 Oktober 1965, ketujuh Pahlawan Revolusi dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan. Ribuan orang turut menyertai proses pemakaman dalam suasana penuh duka. Jenderal Abdul Haris Nasution mengiringi dengan pidato perpisahan dengan suara tersekat menahan haru. Beliau menyuarakan seruan untuk terus menegakkan kejujuran,keadilan dan kebenaran.

Pesan moral inilah yang hendak disampaikan pada generasi muda Indonesia selanjutnya. Agar terus MENEGAKKAN KEJUJURAN, KEADILAN DAN KEBENARAN sepahit apapun itu. Terdapat hikmah dan pelajaran yang luar biasa dari peristiwa yang sangat sangat kontroversial dicatatan sejarah Indonesia yaitu Penghiatan G 30 S PKI ini bagi kita yang berpikir.

Termasuk sejarah negeri ini terutama golongan Islam yang melakukan perlawanan habis-habisan melawan komunisme. Dalam Muktamar Ulama se-Indonesia tanggal 8-11 September 1957 di Palembang, para ulama memutuskan:

1.         Ideologi/ajaran Komunisme adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya,

2.         Bagi orang yang menganut ideologi/ajaran Komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, maka kafirlah dia dan tiada sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka-mempusakai dan haram hukumnya jenazahnya diselenggarakan secara Islam,

3.         Bagi orang yang memasuki organisasi/Partai yang berideologi komunisme (PKI, Sobsi, Pemuda Rakyat dll; tidak dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut,

4.         Walaupun Republik Indonesia bukan negara Islam, namun haram hukumnya bagi umat Islam mengangkat/ memilih kepala negara yang berideologi Komunisme,

5.         Memperingatkan kepada pemerintah RI agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang membantu perjuangan kaum Komunis,

6.         Mendesak kepada Presiden RI untuk mengeluarkan dekrit menyatakan PKI dan mantel organisasinya sebagai partai terlarang di Indonesia.

 

Bagi kalian yang tidak sempat merasakan era Orde Baru (1966–1998) mungkin hanya menganggap ini adalah “peristiwa sejarah biasa” yang sering disebut dalam buku teks pelajaran Sejarah dengan nama G30S/PKI. Yah, intinya cuma peristiwa masa lalu tentang pembunuhan 7 Jendral yang didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia), yang kemudian berujung pada pelarangan ideologi komunis di Indonesia. Mungkin hal paling kalian pusingkan itu cuma sebatas bagaimana caranya menghafal nama 7 jenderal yang dibunuh beserta pangkatnya karena nanti kemungkinan menjadi soal ujian. Intinya, tidak ada yang spesial, tidak ada yang menarik dari peristiwa ini, hanya sebatas sepotong cerita sejarah saja.

Itu adalah salah besar. Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai catatan sejarah Indonesia yang paling kelam, paling misterius, paling kontroversial, dan paling sensitif untuk dibahas terutama pada masa pemerintahaan Orde Baru. Peristiwa ini begitu mempengaruhi nasib jutaan masyarakat Indonesia, dari mulai peralihan transisi kekuasaan, posisi kebijakan luar negeri Indonesia terhadap konflik besar dunia pada saat itu, serta penangkapan dan pembunuhan masal selama puluhan tahun.

Peristiwa ini begitu kontroversial dan misterius sehingga memunculkan berbagai macam versi tentang konflik kepentingan yang menjadi dalang sebenarnya dari peristiwa ini. Mulai dari versi (1) Orde Baru tentang upaya pemberontakan PKI untuk menjadi Indonesia Negara dengan ideologi Komunis, kemudian (2) versi tentang adanya konflik internal dalam TNI yang ingin mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno, (3) sampai keterlibatan CIA dan Blok Barat (Amerika, Inggris, dan kawan kawan) dalam peristiwa ini untuk mencegah Indonesia mengubah ideologinya menjadi komunis dengan menjadikan PKI sebagai kambing hitam.

Sebagai penutup, kita sadar bahwa sebuah artikel seperti ini tidak akan mungkin bisa mengupas sebuah dinamika peristiwa Sejarah yang begitu kompleks, begitu rumit, dan begitu misterius. Harus diakui bahwa artikel ini adalah bentuk penyederhanaan dan simplifikasi dari serangkaian cara agar bagaimana kita tidak melupakan sejarah dan bagaiman kita bisa berpikir, bersifat dan bersikap kritis. Kita berharap bahwa kita sekarang bisa melihat sejarah sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain, bahwa sejarah adalah suatu pembelajaran yang komprehensif terhadap dinamika kepentingan, perilaku manusia, serta menjadi sarana pembelajaran kita semua untuk membangun sejarah Indonesia yang lebih baik.

Dalam memahami Sejarah, bisa jadi kita tidak akan tahu secara persis kenyataan sesungguhnya yang terjadi di masa lalu. Kita yang sekarang hidup di tahun 2020 tidak mungkin bisa mengembalikan waktu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965, tapi dalam memahami sejarah, kita bisa menelusurinya seperti seorang detektif.

Seperti seorang Sherlock Holmes/ Detektif Conan/ Kindaichi dalam mencoba untuk mengungkap sebuah peristiwa pembunuhan yang sudah berlalu berhari-hari. Tentunya, mereka juga tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu dan melihat secara langsung siapa pelaku pembunuhan sesungguhnya. Tapi, seorang detektif bisa menginvestigasi dan menganalisis siapa pelaku pembunuhan dengan melihat sidik jari, DNA pada bercak darah yang tertinggal, motif dari calon tersangka, dokumentasi foto, dan sebagainya. 

Begitu juga dengan memahami sejarah, kita bisa menganalisa dokumen, foto, kesaksian, dan juga menelusuri berbagai motif dan konflik kepentingan yang terjadi pada masa itu.

“Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada KEMUNAFIKAN. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”Soe Hok Gie, Aktivis MahasiswaIndonesia (1942-1969)

 

Belum ada Komentar untuk "Jas Merah (Catatan Hitam G 30 S PKI)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel