Jas Merah (Catatan Hitam G 30 S PKI)
JAS MERAH
Catatan Hitam G 30 S PKI
Ironinya, generasi zaman now nampaknya
enggan untuk mempedulikan sejarah. Terutama sejarah bangsa sendiri.
Sejarah perjuangan bangsa hingga kemerdekaan Indonesia. Sejarah para founding
fathers kita dalam rangka mempertahankan kemerdekaan bangsa dari
rongrongan pihak-pihak yang hendak merebut kembali kemerdekaan. Rongrongan juga
datang dari penghianat yang hendak mengambil keuntungan sendiri dan
kelompoknya. Tanpa mempedulikan kepentingan rakyat dan keselamatan bangsa.
Hal tersebut nampak dari sebuah
pernyataan yang terlontar dari seorang Dosen Perguruan Tinggi Negeri
(PTN) nomor wahid di Kabupaten Bone, kampus yang saya tempati melanjutkan
pendidikan. Ia menuturkan keheranannya atas ketidaktahuan generasi
zaman now yang diwakili mahasiswanya akan Hari Kebangkitan
Nasional. Apalagi sejarah di balik itu.
Sang Dosen pun tak habis pikir ada
apa dengan generasi muda zaman now yang dangkal sekali
pemahaman pengetahuannya tentang sejarah bangsa sendiri. Beliau pun melanjutkan
dalam sebuah sesi ujian mata kuliah tertentu (sebut saja, Civic Education)
dari kurang lebih 100 mahasiswanya di semester 2, hanya ada 2 orang yang bisa
menjawab pertanyaan tentang Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap
20 Mei ini.
Sehubungan dengan hal di atas,
mahasiswa lainnya pun tak banyak yang tahu ketika saya bertanya tentang salah
satu peristiwa sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa yang telah “menguji”
ideologi Pancasila dengan gugurnya 7 Pahlawan Revolusi. Peristiwa Pengkhianatan
Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia Tahun 1965 (untuk selanjutnya
disingkat G 30 S PKI). Ironinya, komentar mereka sungguh di luar dugaan
dan lebih bernuansa politis dibanding fakta sejarah yang mengemuka di balik
peristiwa tersebut.
Ketika saya lanjutkan bertanya lebih
detil tentang kronologis, korban para pahlawan revolusi dan pengetahuan
latar belakang yang melatar belakangi peristiwa tersebut, mereka hanya diam
seribu bahasa. Artinya mereka lebih tertarik mengamati komentar orang lain
dalam media sosial atas peristiwa G 30 S PKI tanpa terlebih dahulu berusaha
mengetahui peristiwa tersebut, menyerap informasi secara mendalam, obyektif,
arif dan bijaksana.
Dialog singkat di awal kuliah Civic
Education ketika membahas bab ideologi, membuat saya akhirnya menayangkan
film G 3 S PKI. Ini merupakan trik jurus melawan lupa akan peristiwa G 30 S PKI
yang telah menorehkan sejarah kelam perjalanan bangsa anak negeri. Film
yang berdurasi 3 jam lebih ini ditayangkan di beberapa kali pertemuan. Tentunya
tidak ditayangkan secara utuh. Mengingat keterbatasan waktu. Dengan disisipi
berbagai pertanyaan dan diskusi terkait materi mata kuliah Civic Education.
Di akhir kuliah saya berusaha
memberikan feed back terhadap pemahaman mereka terhadap
peristiwa sejarah Penghianatan G 30 S PKI ini. Terdapat perbedaan sikap dan
jawaban dari mahasiswa yang semula “menolak” menjadi lebih arif dalam
menanggapi.
Animo mahasiswa ketika melihat film
G 30 S PKI beragam. Ada yang sangat antusias namun ada juga justru menolak
dengan bahasa tubuh yang enggan melihat film tersebut. Film G S PKI yang telah
melalui riset sekian tahun dan akhirnya sutradara memfilmkannya cukup
memberikan gambaran kronologis latar belakang sejarah di balik peristiwa
tersebut.
Film diawali lokasi monumen
Pancasila Sakti lengkap dengan patung ketujuh Pahlawan Revolusi beserta
sumur lubang buaya dan relief di dinding museum kekejaman PKI saat mengeksekusi
para para Pahlawan Revolusi. Adegan di museum lubang buaya diakhiri dengan
sumur kecil tempat para Pahlawan Revolusi dikuburkan oleh PKI dengan sebuah
pernyataan yang berbunyi, “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian
Pancasila, tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur
ini.”
Aksi-aksi kekejaman PKI sebelumnya
dalam sejarah Indonesia juga dimunculkan dalam film ini. Antara lain, ketika
ribuan orang PKI menyerang jamaah seusai sholat subuh dan menginjak-injak kitab
suci Al-Qur’an di sebuah Islamic Center di desa Kanigoro,
Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Januari 1965. Kemudian dilanjutkan dengan
bukti klipingan koran yang memberitakan beberapa tindakan sadis PKI di beberapa
wilayah di Indonesia.
Latar belakang sosiologis juga cukup
digambarkan dalam film ini. Mulai dari kemiskinan yang melingkupi sebagian
besar rakyat Indonesia. Digambarkan dengan antri membeli minyak tanah dan
kelangkaan beras melalui dialog salah satu keluarga.
Kondisi sakitnya Ir. Soekarno
pemimpin besar revolusi yang juga Presiden pertama Indonesia pun
digambarkan secara gamblang dalam film tersebut. Tim medis dari RRC dalam
salah satu dialog dengan D.N. Aidit, hasil analisis medisnya menyimpulkan sakit
Bung Karno dengan dua kata singkat, yakni dapat menyebabkan kelumpuhan atau
kematian. D.N. Aidit ini dalam film ini kemudian dikenal sebagai lakon
utama di balik peristiwa Pengkhianatan G 30 S PKI dan terbunuhnya para Pahlawan
Revolusi.
“Jika presiden sakit, maka negara
ikut sakit,” kata Aidit dalam sebuah dialog di film tersebut. Kondisi sakit permimpin
nomer satu negeri ini dimanfaatkan oleh beberapa pentolan PKI untuk
membuat isu “Dewan Jenderal’. Hingga akhirnya terbunuhnya para jenderal putra
terbaik bangsa dan dikubur dalam sebuah sumur di lubang buaya.
Pascapembunuhan beberapa perwira TNI
AD, PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan
Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang
terletak di Jalan Merdeka Selatan. Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman
tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota
“Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan
pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.
Di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta,
PKI membunuh Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel
Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). Mereka diculik PKI pada sore hari
1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak
berhubungan dengan Dewan Revolusi. Pada tanggal 1 Oktober 1965
Sukarno dan sekretaris jenderal PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh
para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di
Jakarta untuk mencari perlindungan.
Pada tanggal 6 Oktober Sukarno
mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu
persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian
kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua
anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung "pemimpin revolusi
Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak
ulang di koran CPA bernama "Tribune".
Pada tanggal 12 Oktober 1965,
pemimpin-pemimpin Uni-Soviet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim
pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk
mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik. Kita mendengar dengan penuh minat
tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang
dan menghindari kekacauan. Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."
Pada tanggal 16 Oktober 1965,
Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan
Darat di Istana Negara.
Minimal dari film tersebut kita bisa
melihat latar belakang sosiologis yang ditandai dengan kemiskinan rakyat
Indonesia, presiden yang sedang sakit yang kemudian didaulat negara pun ikut
sakit, semakin memuluskan PKI menjalankan rencananya. Berbagai rapat internal
pentolan PKI di tanggal sebelum peristiwa 30 September 1965 tertulis jelas di
film tersebut. Hingga hari “bertindak” pun (30 September 1965) ditayangkan dari
kediaman 7 Pahlawan Revolusi (Jenderal Ahmad Yani, Jenderal R. Soeprapto, Jenderal
M.T. Harjono, Jenderal S. Parman, Jenderal D.I. Panjaitan, Jenderal Soetojo
Siswomihardjo, Perwira Pertama Pierre Tendean). Turut pula gugur dalam
peristiwa tersebut putri Jenderal Abdul Haris Nasution, Ade Irma Suryani.
Para isteri pahlawan revolusi,
anak-anak mereka, dan penghuni rumah lainnya menjadi saksi proses pembunuhan
atau diculik para jenderal ini. Jenderal A. Yani ditembak mati di depan anak
laki-lakinya. Demikian pula dengan Jenderal D.I Panjaitan yang ditembak di
bagian belakang kepalanya oleh PKI di teras depan rumahnya yang disaksikan oleh
Catherine, putri beliau. Isteri salah satu Pahlawan Revolusi pun menjadi saksi
suaminya ditembak mati hingga ia sendiri yang membersihkan genangan darah
suaminya di lantai dan pintu kediaman mereka dan berbagai kebiadaban PKI
tergambar dalam film ini. Termasuk penyiksaan dan eksekusi kepada para Pahlawan
Revolusi di lubang buaya. Dengan diiringi tarian genjer-genjer dari Gerwani, 4
Pahlawan Revolusi mengalami penyiksaan yang luar biasa sadisnya. Sementara 3
Pahlawan Revolusi sudah ditembak mati di kediaman masing-masing.
Potret kebiadaban komunis juga
ditorehkan pada sejarah dunia. Dalam tulisannya, Adian Husaini (Republika,
17/9/2018), tokoh komunis dunia, Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924)
menyatakan: “Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi
sekarang ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan
berjalan dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak jadi soal bila ¾
penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan
komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”
Adian Husaini melanjutkan Lenin
bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai setengah juta
bangsanya sendiri. Dilanjutkan Joseph Stalin (1925-1953) yang menjagal 46 juta
orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot (Kamboja) 2,5
juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa (1978-1987).
Kembali menyoal fakta sejarah yang
ditampilkan di film Pengkhianatan G 30 S PKI diakhiri dengan proses
pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi dari sumur tua dan sempit di lubang
buaya. Jenazah ketujuh Pahlawan Revolusi diangkat oleh tim amphibi. Beberapa
petugas yang berada di sekitar sumur terlihat dalam film itu menutup hidung
mereka. Terlihat pula lalat yang hinggap di jari salah satu jenazah. Ini
menunjukkan bagaimana kondisi jenazah. Ditambah dengan penyiksaan sebelum
dimasukkan dalam sumur di lubang buaya ini. Pemirsa ditampilkan secara
utuh dan gamblang bagaimana kondisi jenazah para Pahlawan Revolusi yang sudah
tidak dikenali kecuali dari pakaian yang mereka kenakan terakhir kali. Dalam
film juga ditampilkan suara asli Mayjen Soeharto saat jenazah diangkat dari sumur
di lubang buaya 4 Oktober 1965.
Tepat Hari Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI) yang diperingati tanggal 5 Oktober 1965, ketujuh
Pahlawan Revolusi dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan. Ribuan
orang turut menyertai proses pemakaman dalam suasana penuh duka. Jenderal Abdul
Haris Nasution mengiringi dengan pidato perpisahan dengan suara tersekat
menahan haru. Beliau menyuarakan seruan untuk terus menegakkan kejujuran,keadilan dan kebenaran.
Pesan moral inilah yang hendak
disampaikan pada generasi muda Indonesia selanjutnya. Agar terus MENEGAKKAN
KEJUJURAN, KEADILAN DAN KEBENARAN sepahit apapun itu. Terdapat hikmah dan
pelajaran yang luar biasa dari peristiwa yang sangat sangat kontroversial
dicatatan sejarah Indonesia yaitu Penghiatan G 30 S PKI ini bagi kita yang
berpikir.
Termasuk sejarah negeri ini terutama
golongan Islam yang melakukan perlawanan habis-habisan melawan komunisme. Dalam
Muktamar Ulama se-Indonesia tanggal 8-11 September 1957 di Palembang, para
ulama memutuskan:
1.
Ideologi/ajaran
Komunisme adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya,
2.
Bagi orang yang
menganut ideologi/ajaran Komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, maka
kafirlah dia dan tiada sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada
pusaka-mempusakai dan haram hukumnya jenazahnya diselenggarakan secara Islam,
3.
Bagi orang yang
memasuki organisasi/Partai yang berideologi komunisme (PKI, Sobsi, Pemuda
Rakyat dll; tidak dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi
umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut,
4.
Walaupun
Republik Indonesia bukan negara Islam, namun haram hukumnya bagi umat Islam
mengangkat/ memilih kepala negara yang berideologi Komunisme,
5.
Memperingatkan
kepada pemerintah RI agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif
asing yang membantu perjuangan kaum Komunis,
6.
Mendesak kepada
Presiden RI untuk mengeluarkan dekrit menyatakan PKI dan mantel organisasinya
sebagai partai terlarang di Indonesia.
Bagi kalian yang
tidak sempat merasakan era Orde Baru (1966–1998) mungkin hanya menganggap
ini adalah “peristiwa sejarah biasa” yang sering disebut dalam buku teks
pelajaran Sejarah dengan nama G30S/PKI. Yah, intinya cuma peristiwa masa lalu
tentang pembunuhan 7 Jendral yang didalangi oleh PKI (Partai Komunis
Indonesia), yang kemudian berujung pada pelarangan ideologi komunis di
Indonesia. Mungkin hal paling kalian pusingkan itu cuma sebatas bagaimana
caranya menghafal nama 7 jenderal yang dibunuh beserta pangkatnya karena nanti
kemungkinan menjadi soal ujian. Intinya, tidak ada yang spesial, tidak ada yang
menarik dari peristiwa ini, hanya sebatas sepotong cerita sejarah saja.
Itu adalah salah besar.
Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai catatan sejarah Indonesia yang paling
kelam, paling misterius, paling kontroversial, dan paling sensitif untuk
dibahas terutama pada masa pemerintahaan Orde Baru. Peristiwa ini begitu
mempengaruhi nasib jutaan masyarakat Indonesia, dari mulai peralihan transisi
kekuasaan, posisi kebijakan luar negeri Indonesia terhadap konflik besar dunia
pada saat itu, serta penangkapan dan pembunuhan masal selama puluhan tahun.
Peristiwa ini begitu
kontroversial dan misterius sehingga memunculkan berbagai macam versi tentang
konflik kepentingan yang menjadi dalang sebenarnya dari peristiwa ini. Mulai
dari versi (1) Orde Baru tentang upaya pemberontakan PKI untuk menjadi
Indonesia Negara dengan ideologi Komunis, kemudian (2) versi tentang adanya
konflik internal dalam TNI yang ingin mengambil alih kekuasaan dari Presiden
Soekarno, (3) sampai keterlibatan CIA dan Blok Barat (Amerika, Inggris, dan
kawan kawan) dalam peristiwa ini untuk mencegah Indonesia mengubah ideologinya
menjadi komunis dengan menjadikan PKI sebagai kambing hitam.
Sebagai penutup, kita
sadar bahwa sebuah artikel seperti ini tidak akan mungkin bisa mengupas sebuah
dinamika peristiwa Sejarah yang begitu kompleks, begitu rumit, dan begitu
misterius. Harus diakui bahwa artikel ini adalah bentuk penyederhanaan dan
simplifikasi dari serangkaian cara agar bagaimana kita tidak melupakan sejarah
dan bagaiman kita bisa berpikir, bersifat dan bersikap kritis. Kita berharap
bahwa kita sekarang bisa melihat sejarah sebagai sebuah rangkaian
peristiwa yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain, bahwa sejarah
adalah suatu pembelajaran yang komprehensif terhadap dinamika kepentingan,
perilaku manusia, serta menjadi sarana pembelajaran kita semua untuk membangun
sejarah Indonesia yang lebih baik.
Dalam memahami Sejarah,
bisa jadi kita tidak akan tahu secara persis kenyataan sesungguhnya yang
terjadi di masa lalu. Kita yang sekarang hidup di tahun 2020 tidak mungkin
bisa mengembalikan waktu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi pada tahun
1965, tapi dalam memahami sejarah, kita bisa menelusurinya seperti seorang
detektif.
Seperti seorang Sherlock
Holmes/ Detektif Conan/ Kindaichi dalam mencoba untuk mengungkap sebuah
peristiwa pembunuhan yang sudah berlalu berhari-hari. Tentunya, mereka juga
tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu dan melihat secara langsung siapa
pelaku pembunuhan sesungguhnya. Tapi, seorang detektif bisa menginvestigasi dan
menganalisis siapa pelaku pembunuhan dengan melihat sidik jari, DNA pada bercak
darah yang tertinggal, motif dari calon tersangka, dokumentasi foto, dan
sebagainya.
Begitu juga dengan memahami sejarah, kita bisa menganalisa dokumen, foto, kesaksian, dan juga menelusuri berbagai motif dan konflik kepentingan yang terjadi pada masa itu.
“Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada KEMUNAFIKAN. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”–Soe Hok Gie, Aktivis MahasiswaIndonesia (1942-1969)

Belum ada Komentar untuk "Jas Merah (Catatan Hitam G 30 S PKI)"
Posting Komentar