Kualitas Dirimu Sebagaimana dalam Dirimu Sendiri.
Selasa, 04 Februari 2020
Tambah Komentar
Ditulis Oleh Dadang Harianto.
Tidak ada satupun kebahagiaan atau kepedihan yang datang dalam hidup, kecuali kita sendirilah yang mengundangnya.
Setiap orang tentu menginginkan kualitas hidup yang baik,
bahkan istimewa. Walaupun definisi tentang kualitas hidup yang baik itu bisa berbeda,
secara umum, manusia menterjemahkannya sebagai punya pekerjaan aman dengan
jabatan tinggi dan berpenghasilan besar, memiliki keluarga yang
membahagiakan, dengan kata lain hidup bahagia.
Sebagai seorang Mahasiswa yang suka dengan Filsafat, saya
sering mendapatkan pertanyaan, tentang bagaimana seseorang bisa mencapai
kualitas hidup yang diinginkan. Dalam menjawabnya, saya lebih suka mengajak
orang yang bertanya mengeksplorasi melalui keterlibatan emosi, intelektual dan
fisik secara sinergis, sehingga penanya lebih bisa memahami dan menyadari,
dibandingkan sekedar mengetahui. Karenanya tulisan ini saya niatkan sebagai
pengantar untuk memahami dan menyadari.
Pada Tulisan The Miracle of Deam disitu disampaikan
pentingnya memiliki mimpi goal yang kongkrit, sebagai syarat terang dan
jelasnya arah kaki untuk dilangkahkan. Pada tulisan kali ini saya ingin
membahas hal yang kurang lebih sama, namun dari sisi yang berbeda.
Banyak orang berdoa ingin mendapat pekerjaan yang
“terbaik”. Dan banyak juga orang berdoa ingin memiliki keluarga yang terbaik
(harmonis). Namun tidak semua orang tahu bagaimana itu bisa didapatkan. Atau
ada juga yang salah faham cara mendapatkannya. Hal yang banyak orang tidak
sadari adalah bahwa setiap orang hanya akan mendapatkan kualitas hidup
(pekerjaan, jodoh, teman, lingkungan dan sebagainya) kurang lebih sama dengan
kualitas dirinya. Jadi, jadikan dirimu baik, maka sebaik itu pulalah
hidupmu. Terkesan klise? Banyak orang sudah mendengarnya, namun saya rasa masih
sedikit orang memahami maksudnya. Saya akan coba jelaskan.
Masih ingat teori RESONANSI? Kalau tidak salah,
dipelajari juga saat di SMP. Biasanya praktik menggunakan tiga Garpu Tala.
Garpu tala A dan B dibuat sama frekuensinya. Sementara Garpu tala C berbeda.
Saat Garpu tala A dipukul dan mengeluarkan bunyi dan getar, garpu tala B ikut
mengeluarkan bunyi dan getar, walau tidak disentuh sama sekali. Sementara
garputala C tidak bunyi sama sekali. Saat bunyi garputala A dihentikan,
garputala B ikut berhenti walau tak disentuh sama sekali.
Hal tersebut karena A dan B memiliki frekuensi atau
kualitas yang sama sehingga mereka mampu BERESONANSI. Sementara Garputala C,
karena tidak satu frekuensi, ia tidak terhubung sama sekali dengan A atau B.
Loh.., Lantas apa hubungannya dengan manusia?
Setiap kali kita berpikir, berkata dan bertindak, paling
tidak ada 2 kejadian penting dalam hidup kita. Pertama, secara realtime akan
ditangkap oleh otak Hypothalamus sebagai informasi dan diteruskan sebagai
“perintah” kepada otak Hipofese sang master of glands (penguasa
hormon) untuk mengorkestrasi terproduksinya hormon-hormon yang akan
mempengaruhi kualitas tubuh. Jika pikiran, perkataan dan perbuatannya positif/
baik, maka akan menjadi baik pula kualitas tubuh kita. Begitu juga sebaliknya
jika pikiran, perkataan dan perbuatan kita negative/ buruk, akan menstimulus
terbangunnya kualitas tubuh yang buruk.
Kedua, pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan
sungguh-sungguh dan atau berulang-ulang, akan terproses didalam otak dan menjadi
energi intrinsik. Kualitas pikiran, perkataan dan perbuatan menentukan kualitas
energy intrinsik setiap orang. Kemudian, otak Thalamus menyebar-luaskan
kualitas diri (energy intrinsic) kita kealam semesta, untuk mempengaruhi dan
menarik energy yang sepadan (kualitasnya kurang lebih sama) dalam kehidupan.
Artinya, orang-orang dan atau rizki yang datang mengelilingi hidup kita, hanya
yang sama dengan kualitas diri kita. Begitulah hidup… Kemiripan menarik Kemiripan,
kita hanya akan terhubung (beresonansi) dengan orang dan atau pekerjaan yang
memiliki frekuensi yang sama.
Jika ingin mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang
terbaik, atau ingin mendapat jodoh yang terbaik, maka jadikan diri pantas
menerima anugrah itu. Kualitas kita akan menarik orang-orang yang memiliki
kualitas yang sama kedalam kehidupan kita. Inilah yang disebut The Law Of Attraction.
Misalnya anda mendambakan menjadi pejabat tertentu,
katakan saja, kepala cabang. Maka yang harus anda lakukan adalah memahami
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang kepala cabang dan berupaya untuk
memiliki kemampuan itu. Kemampuan yang dimaksud tentu bukan sekedar hard
skill nya, namun juga soft skill, seperti kepemimpinan dan teamwork.
Dan juga sifat-sifat mulia yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin terbaik,
seperti rendah hati, santun, peduli dan sejenisnya. Maka saat itu anda sedang
membangun resonansi dengan
jabatan itu, dan orang-orang disekeliling (yang merasakan sifat-sifat baik
anda) akan mendukung.
Begitu juga saat anda mendamba untuk mendapatkan pasangan
yang terbaik, maka definisikan maksud terbaik yang anda inginkan, kemudian
miliki sifat-sifat terbaik itu dan terapkan dalam kehidupan. Tanpa disadari
saat itu anda sedang “mengundang”¸
yakni menyebarkan frekuensi anda kealam semesta untuk mencari dan beresonansi
dengan orang (calon jodoh) yang memiliki kualitas yang kurang lebih anda juga
miliki.
Ada banyak orang tersentak sadar bahwa ternyata pekerjaan
yang digeluti justru membawa kepada masalah yang menjadikan mereka tidak
mendapatkan kehidupan terbaik seperti yang diinginkan. Sebagaimana banyak juga
orang tersentak sadar, ternyata jodoh yang telah dinikahi justru menjauhkan
mereka dari mendapatkan kehidupan yang membahagiakan. Jika itu terjadi pada
diri anda, hal pertama yang harus dikoreksi dan diperbaiki adalah diri anda sendiri!
Tidak ada satupun kebahagiaan atau kepedihan yang datang
dalam hidup, kecuai kita sendirilah yang mengundangnya. Undangan dilayangkan
melalui sikap kita pada diri sendiri dan pada orang lain melalui pikiran,
perkataan dan perbuatan. Perspektif tentang kehidupan dan masalah yang kita
hadapi dan cara kita menghadapinya, serta cara memperlakukan diri sendiri dan
orang lain menentukan apa yang kita dapatkan. Inilah yang disebut The Lawof Attraction.
Sambutlah para undangan dengan senyum, hatta itu adalah
kepedihan. Ingat, cara kita mengahadapinya hari ini, menunjukan kualitas diri
dan punya peran terhadap apa yang akan kita dapatkan kelak. Jangan tangisi
masalah yang datang, apalagi mengumpat atau menyesalinya. Ikhlaskan, ingatlah
siapa yang mengundangnya datang.
Dan yang lebih menakjubkan adalah, telah dibuktikan
secara ilmiah bahwa ketergantungan pada Tuhan dalam menghadapi kebahagiaan
maupun kepedihan, memiliki pengaruh yang sangat besar atas kualitas diri yang
terbentuk. Mulai dari kualitas organ tubuh (kesehatan) sampai kebaikan-kebaikan
(rezeki) yang akan hadir dalam kehidupan.
Jadi, sekali lagi, buatlah diri positif; berpikiran,
berkata dan bertindak positif, maka kebaikanlah yang akan hadir dalam hidup.
Mencintai Diri Sendiri Dimulai Dengan Menyukai Diri Sendiri, Yang Dimulai Dengan Menghargai Diri Sendiri, Yang Dimulai Dari Memikirkan Dirimu Dengan Pandangan Yang Baik. Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Sebuah KeEgoisan, Tetapi Sebuah Kewarasan. (DadangHarianto).
=>Klik Disini Untuk Melihat Semua Daftar Postingan Pejuang Makna.


Belum ada Komentar untuk "Kualitas Dirimu Sebagaimana dalam Dirimu Sendiri."
Posting Komentar