Kualitas Dirimu Sebagaimana dalam Dirimu Sendiri.

Ditulis Oleh Dadang Harianto.
Tidak ada satupun kebahagiaan atau kepedihan yang datang dalam hidup, kecuali kita sendirilah yang mengundangnya.
Setiap orang tentu menginginkan kualitas hidup yang baik, bahkan istimewa. Walaupun definisi tentang kualitas hidup yang baik itu bisa berbeda, secara umum, manusia menterjemahkannya sebagai punya pekerjaan aman dengan jabatan tinggi dan berpenghasilan besar, memiliki keluarga  yang membahagiakan, dengan kata lain hidup bahagia.
Sebagai seorang Mahasiswa yang suka dengan Filsafat, saya sering mendapatkan pertanyaan, tentang bagaimana seseorang bisa mencapai kualitas hidup yang diinginkan. Dalam menjawabnya, saya lebih suka mengajak orang yang bertanya mengeksplorasi melalui keterlibatan emosi, intelektual dan fisik secara sinergis, sehingga penanya lebih bisa memahami dan menyadari, dibandingkan sekedar mengetahui. Karenanya tulisan ini saya niatkan sebagai pengantar untuk memahami dan menyadari.
Pada Tulisan The Miracle of Deam disitu disampaikan pentingnya memiliki mimpi goal yang kongkrit, sebagai syarat terang dan jelasnya arah kaki untuk dilangkahkan. Pada tulisan kali ini saya ingin membahas hal yang kurang lebih sama, namun dari sisi yang berbeda.
Banyak orang berdoa ingin mendapat pekerjaan yang “terbaik”. Dan banyak juga orang berdoa ingin memiliki keluarga yang terbaik (harmonis). Namun tidak semua orang tahu bagaimana itu bisa didapatkan. Atau ada juga yang salah faham cara mendapatkannya. Hal yang banyak orang tidak sadari adalah bahwa setiap orang hanya akan mendapatkan kualitas hidup (pekerjaan, jodoh, teman, lingkungan dan sebagainya) kurang lebih sama dengan kualitas dirinya. Jadi, jadikan dirimu baik, maka sebaik itu pulalah hidupmu. Terkesan klise? Banyak orang sudah mendengarnya, namun saya rasa masih sedikit orang memahami maksudnya. Saya akan coba jelaskan.
Masih ingat teori RESONANSI? Kalau tidak salah, dipelajari juga saat di SMP. Biasanya praktik menggunakan tiga Garpu Tala. Garpu tala A dan B dibuat sama frekuensinya. Sementara Garpu tala C berbeda. Saat Garpu tala A dipukul dan mengeluarkan bunyi dan getar, garpu tala B ikut mengeluarkan bunyi dan getar, walau tidak disentuh sama sekali. Sementara garputala C tidak bunyi sama sekali. Saat bunyi garputala A dihentikan, garputala B ikut berhenti walau tak disentuh sama sekali.
Hal tersebut karena A dan B memiliki frekuensi atau kualitas yang sama sehingga mereka mampu BERESONANSI. Sementara Garputala C, karena tidak satu frekuensi, ia tidak terhubung sama sekali dengan A atau B.
Loh.., Lantas apa hubungannya dengan manusia?
Setiap kali kita berpikir, berkata dan bertindak, paling tidak ada 2 kejadian penting dalam hidup kita. Pertama, secara realtime akan ditangkap oleh otak Hypothalamus sebagai informasi dan diteruskan sebagai “perintah” kepada otak Hipofese sang master of glands (penguasa hormon) untuk mengorkestrasi terproduksinya hormon-hormon yang akan mempengaruhi kualitas tubuh. Jika pikiran, perkataan dan perbuatannya positif/ baik, maka akan menjadi baik pula kualitas tubuh kita. Begitu juga sebaliknya jika pikiran, perkataan dan perbuatan kita negative/ buruk, akan menstimulus terbangunnya kualitas tubuh yang buruk.
Kedua, pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan sungguh-sungguh dan atau berulang-ulang, akan terproses didalam otak dan menjadi energi intrinsik. Kualitas pikiran, perkataan dan perbuatan menentukan kualitas energy intrinsik setiap orang. Kemudian, otak Thalamus menyebar-luaskan kualitas diri (energy intrinsic) kita kealam semesta, untuk mempengaruhi dan menarik energy yang sepadan (kualitasnya kurang lebih sama) dalam kehidupan. Artinya, orang-orang dan atau rizki yang datang mengelilingi hidup kita, hanya yang sama dengan kualitas diri kita. Begitulah hidup… Kemiripan menarik Kemiripan, kita hanya akan terhubung (beresonansi) dengan orang dan atau pekerjaan yang memiliki frekuensi yang sama.
Jika ingin mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang terbaik, atau ingin mendapat jodoh yang terbaik, maka jadikan diri pantas menerima anugrah itu. Kualitas kita akan menarik orang-orang yang memiliki kualitas yang sama kedalam kehidupan kita. Inilah yang disebut The Law Of Attraction.
Misalnya anda mendambakan menjadi pejabat tertentu, katakan saja, kepala cabang. Maka yang harus anda lakukan adalah memahami kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang kepala cabang dan berupaya untuk memiliki kemampuan itu. Kemampuan yang dimaksud tentu bukan sekedar hard skill nya, namun juga soft skill, seperti kepemimpinan dan teamwork. Dan juga sifat-sifat mulia yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin terbaik, seperti rendah hati, santun, peduli dan sejenisnya. Maka saat itu anda sedang membangun resonansi dengan jabatan itu, dan orang-orang disekeliling (yang merasakan sifat-sifat baik anda) akan mendukung.
Begitu juga saat anda mendamba untuk mendapatkan pasangan yang terbaik, maka definisikan maksud terbaik yang anda inginkan, kemudian miliki sifat-sifat terbaik itu dan terapkan dalam kehidupan. Tanpa disadari saat itu anda sedang “mengundang”¸ yakni menyebarkan frekuensi anda kealam semesta untuk mencari dan beresonansi dengan orang (calon jodoh) yang memiliki kualitas yang kurang lebih anda juga miliki.
Ada banyak orang tersentak sadar bahwa ternyata pekerjaan yang digeluti justru membawa kepada masalah yang menjadikan mereka tidak mendapatkan kehidupan terbaik seperti yang diinginkan. Sebagaimana banyak juga orang tersentak sadar, ternyata jodoh yang telah dinikahi justru menjauhkan mereka dari mendapatkan kehidupan yang membahagiakan. Jika itu terjadi pada diri anda, hal pertama yang harus dikoreksi dan diperbaiki adalah diri anda sendiri!
Tidak ada satupun kebahagiaan atau kepedihan yang datang dalam hidup, kecuai kita sendirilah yang mengundangnya. Undangan dilayangkan melalui sikap kita pada diri sendiri dan pada orang lain melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Perspektif tentang kehidupan dan masalah yang kita hadapi dan cara kita menghadapinya, serta cara memperlakukan diri sendiri dan orang lain menentukan apa yang kita dapatkan. Inilah yang disebut The Lawof Attraction.
Sambutlah para undangan dengan senyum, hatta itu adalah kepedihan. Ingat, cara kita mengahadapinya hari ini, menunjukan kualitas diri dan punya peran terhadap apa yang akan kita dapatkan kelak. Jangan tangisi masalah yang datang, apalagi mengumpat atau menyesalinya. Ikhlaskan, ingatlah siapa yang mengundangnya datang.
Dan yang lebih menakjubkan adalah, telah dibuktikan secara ilmiah bahwa ketergantungan pada Tuhan dalam menghadapi kebahagiaan maupun kepedihan, memiliki pengaruh yang sangat besar atas kualitas diri yang terbentuk. Mulai dari kualitas organ tubuh (kesehatan) sampai kebaikan-kebaikan (rezeki) yang akan hadir dalam kehidupan.
Jadi, sekali lagi, buatlah diri positif; berpikiran, berkata dan bertindak positif, maka kebaikanlah yang akan hadir dalam hidup.
Mencintai Diri Sendiri Dimulai Dengan Menyukai Diri Sendiri, Yang Dimulai Dengan Menghargai Diri Sendiri, Yang Dimulai Dari Memikirkan Dirimu Dengan Pandangan Yang Baik. Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Sebuah KeEgoisan, Tetapi Sebuah Kewarasan. (DadangHarianto).

=>Klik Disini Untuk Melihat Semua Daftar Postingan Pejuang Makna.


Belum ada Komentar untuk "Kualitas Dirimu Sebagaimana dalam Dirimu Sendiri."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel