Sejarah Singkat Filsafat & TokohNya.
Rabu, 15 Januari 2020
Tambah Komentar
A. Sejarah Perkembangan Filsafat Pada Yunani Kuno
Untuk
mempelajari filsafat kita tidak bisa terlepas dari belajar atau mengkaji
sejarah filsafat. Hal ini sangat penting mengingat dalam mempelajari sejarah
kita juga akan mempelari ruang lingkup dimensi yang ada dalam ruang dan waktu
yang melandasi suatu fenomena.
Dengan
fenomena yang ada kita bisa mengetahui sebab dan akibat yang saling terkait.
Oleh karena itu dalam kajian filsafat belajar sejarah filsafat merupakan metode
bahkan merupakansubject matter sebagaimana ,yang dijelaskan
Wiramhardja: “sejarah filsafat merupakan metode yang terkenal dan banyak
digunakan orang dalam mempelajari filsafat bahkan merupakan metode yang sangat
penting dalam belajar berfilsafat. Sejarah filsafat pun merupakan subject
matter itu sendiri”.
Mempelajari
sejarah filsafat berarti kita mempejari dengan dasar kategori waktu mengenai
pemikira secara kronologis, yang di dalamnya antara lain, tempat kejadian,
lingkungan sosial, kebudayaan yang melingkupiya. Dengan mempelajari berbagai
latar belakang yang merupakan bagian dari kronologi maka kita akan mengetahui watak
dari pemikiran berdasarkan pereode sejarah tertentu.
Disamping itu
seringkali persoalan-persoalan hanya dapat dipahami jika dilihat dari
perkembangan sejarahnya. Pemikiran para filosof besar seperti Aristoteles,
Thomas Aquino, Imanuel Kant hanya dapat dimengerti dari aliran aliran yang
mendahului mereka. Aliran yang satu biasanya tesis dan yang lainnya merupakan
sintesis, atau bisa jadi merupakan reaksi dari pemikiran yang lain pada masa
yang berbeda. Dan dari seluruh perjalanan pemikiran filsafat itu menjadi sangat
terlihat juga persoalan-persoalan manakah yang selalu tampil kembali bagi
setiap kurun waktu.
Maka untuk
mengetahui watak dan karakter masing – masing pereode waktu atau dalam sejarah
filsafat maka penulis membagi sejarah filsafat menjadi, pertama zaman Yunani
Kuno atau Filsafat Alam (600 SM – 200 SM). Kedua Zaman Keemasan (470 SM – 300
SM). Kemudian yang ketiga dilanjutkan pada masa Abad Pertengahan pada masa
Filsafat Islam (Arab) (awal abad VIII M – abad XII M). pereode
Kristen (abad IX – XII M). Kemudian masuk pada zaman modern (1600 – 1800 M),
diteruskan Zaman Baru (1800 – 1950 M). Dan terakhir adalah
Postmodernism atau Kontemporer (1950 -…M) .
1. Pra
Socrates
Pada masa awal
ini sering di sebut dengan filsafat alam. Penyebutan tersebut
didasarkan pada munculnya banyak pemikir/filosof yang memfokuskan pemikirannya
pada apa yang diamati di sekitarnya, yakni alam semesta. Mereka memikirkan
alam- mencari unsur induk yang dianggap asal dari segala sesuatu. Pandangan
para filosof ini melahirkan monisme, yaitu aliran yang menyatakan bahwa hanya
ada satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi,
Tuhan atau sebutansi lainnya yang tidak dapat di ketahui.
Pada zaman masa
ini para filosof mulai berfikir ulang dan tidak mempercayai sepenuhnya
pengetahuan yang didasarkan pada mitos-mitos, legenda, kepercayaan yang sedang
menjadi meanstream di masyarakat waktu itu. Mereka mempercayai
bahwa pengetahuan bisa didapatkan melalui proses pemikiran dan
mengamati.
Salah satu pemikir
pertama pada masa ini adalah Thales (624 – 545 SM) berfikiran bahwa zat utama
yang menjadi dasar semua kehidupan adalah air. Anaximander (610 – 546 SM)
adalah murid dari Thales, tetapi walaupun begitu Thales berbeda pendapat dengan
gurunya. Thales berfikiran bahwa permulaan yang pertama tidak bisa ditemukan (apeiron)karena
tidak memiliki sifat-sifat zat yang ada sekarang. Ia mengatakan bahwa segala
hal berasal dari satu subtansi azali yang abadi, tanpa terbatas yang melingkupi
seluruh alam.
2. Zaman
Keemasan
Jika pada masa
Pra Socrates para pemikir masih berkutat pada wilayah kemenjadian, maka pada
masa keemasan sudah masuk pada pemikiran dan keutamaan moral. Pada masa
keemasan kajian sudah mengarah kepada manusia sebagai objek pemikiran. Pada masa
ini juga sudah mulai berkembang dialektis- kritis untuk menunjukkan kebenaran.
Socrates (470 –
399 SM) merupakan generasi pertama dari tiga filsafat besar dari Yunani.
Pemikiran Socrates sangat dipengaruhi oleh kondisi kaum
“sophis” cerdik cendekia yang dalam mengajarkan pengetahuannya
meminta imbalan. Dan pada masa hidupnya kekuasaan politik di Athena sedang
dikuasai oleh para “sophis” yang jahat dan sombong pada masa
sebelumnya.
Socrates adalah
seorang yang meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang
berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Menurut Socrates
ada kebenaran objektif yang tidak tergantung pada saya atau kita. Setiap orang
bisa berpendapat benar dan salah tergantung pada pengujian rasionya.
Socrates percaya
bahwa kebaikan berasal dari pengetahuan diri, manusia pada dasarnya adalah
jujur, dan kejahatan merupakan upaya akibat salah pengarahan yang membebani
kondisi seseorang. Ia menjelaskan gagasan sistematis bagi pembelajaran mengenai
keseimbangan alam dan lingkungan yang kemudian akan mengarah pada perkembangan
method ilmu pengetahuan. Socrates berpendapat bahwa pemerintahan yang ideal
harus melibatkan orang-orang yang bijak, dan dipersiapkan dengan baik dan
mengatur kebaikan-kebaikan untuk masyarakat.
Socrates
memiliki pandangan atau gagasan tunggal dan transenden yang ada di balik
pergerakan ini. Sampai dia di suruh bunuh diri meminum racun karena
pandangannya dianggap meracuni kepercayaan umum yang saat itu masyarakat
mempercayai kuil dan dewa-dewa.
Berikutnya
adalah Plato (427 – 347 SM) adalah murid Socrates. Menurutnya dunia yang tampak
ini sebuah bayangan atau refleksi dari dunia yang ideal. Bahkan
kebenaran dan definisi lahir bukan dari hasil dialog melainkan hasil bayangan
dari dunia ide. Menurutnya dunia ide adalah realitas yang
sebenarnya. Untuk menjelaskan tentang pemikiran filosofisnya Plato
membagi realitas menjadi dua yakni pertama dunia ide. Kedua dunia
baying-bayang dan dunia yang tampak ini adalah di dalamnya.
Aristoteles (384
– 322 SM) adalah filosof yang sangat berpengaruh sama sebagaimana Plato, namun
Aristoteles sangat empiris dan mulai memperlihatkan
kecenderungan berfikir yang saintific. Menururnya tidak ada
sesuatu pun di dalam kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Seluruh
pemikiran dan gagasan yang masuk ke dalam kesadaran kita melaui apa yang pernah
kita lihat dan dengar sebelumnya.
Manusia memiliki
akal pembawaan untuk mengorganisasikan seluruh kesan inderawi ke dalam
kategori-kategori atau kelompok-kelompok. Aristoteles juga mulai membagi benda
dengan melaui “bentuk” dan “substansi” nya. Selain pemikiran yang empiris
ini, Aristoteles juga mengembangkan logika, bahkan Aristoteles terkenal dengan
bapak logika. Logikanya disebut logika tradisional, sebab nanti berkembang
logika modern.
B. Sejarah Perkembangan Filsafat Pada Abad Pertengahan
Filsafat abad
pertengahan sering disebut filsafat scholastic, karena sekolah-sekolah yang
ada sudah mengajarkan hasil dari pemikiran filsafat . Pada
abad ini perkembangan filsafat sangat di pengaruhi oleh agama, sehingga pokus
kajiannya lebih banyak membahas dan membicarakanTheocentris (Tuhan).
Secara histori
peradaban yang dibangun oleh Yunani mengalami masa kejayaan sudah sangat
berkembang pesat dan besar, sehingga mempengaruhi pemikiran di Eropa. Karena
pada saat di Eropa muncul peradaban Kristen. Namun pada pereode selanjutnya
dominasi gereja semakin berlanjut, sampai pada titik belenggu kehidupan
pemikiran manusia.
Gereja
memberlakukan aturan yang sangat ketat terhadap pemikiran manusia, termasuk
pemikiran tentang teologi. Hanya pihak gereja yang berhak mengadakan
penyelidikan terhadap agama. Kendati demikian ada saja pihak-phak
pemikir yang melanggar peraturan tersebut, dan mereka dianggap orang yang murtad,
dan kemudian diadakan pengejaran. Pengejaran terhadap orang-orang yang murtad ini
mencapai puncaknya pada akhir abad XII dan yang paling berhasil di Spanyol.
Pada abad IV
Agustinus (354-430) adalah pemikir besar yang berpengaruh terhadap pemikiran
yang berkembang. Pada Agustinus pemikirannya merupakan integrasikan dari
teologi Kristen dan pemikiran filsafatinya. Ia sendiri tidak sepaham dengan
pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu otonom atau lepas dari iman
kristiani.
Pada
pemikiran masa ini ada beberapa hal yang penting dan sebagai maenstream yaitu
rasio insani hanya dapat abadi jika medapatkan penerangan dari rasio Ilahi.
Tuhan adalah guru yang tinggal dalam batin kita dan menerangi roh manusia. Abad
pertengahan yang memasuki masa keemasan filsafat masih dipelajari dalam
hubugannya dengan teologi. Namun wacana filsafat masih hidup dan dipelajari
walaupun tidak secara terbuka dan mandiri.
Pada zaman ini
dikenal sebagai Abad Pertengahan (400-1500 ). Filsafat pada abad ini dikuasai
dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah
Patristik (Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas
Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik
Barat).
Tokoh-tokoh
Patristik Yunani ini anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes
(185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokohtokoh
dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397),
Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa
Gereja ini adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari
manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat
dikatakan era filsafat yang berlandaskan akal-budi diabdikan untuk dogma agama.
Zaman Skolastik
(sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh Aristoteles.
Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf
Yahudi maupun Islam, terutama melalui Avicena (Ibn. Sina, 980-1037), Averroes
(Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles
demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai Sang Filsuf sedangkan
Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai Sang
Komentator. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman.
Kristiani
menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada masa
Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan. Filsafatnya
disebut Skolastik karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam
sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang
baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada
hubungan antara iman dengan akal budi.
Pada masa ini
filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu
kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu
mengabdi terhadap yang lain atau sebaliknya. Sampai dengan di penghujung Abad
Pertengahan sebagai abad yang kurang kondusif terhadap perkembangan ilmu,
dapatlah diingat dengan nasib seorang astronom berkebangsaan Polandia N.
Copernicus yang dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika
mengemukakan temuannya tentang pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari
(Heleosentrisme).
Teori ini
dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori geosentrisme(Bumi
sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus
semenjak zaman Yunani yang justru telah mendapat mandat dari otoritas
Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja, itu
sebabbnya N. opernicus di hokum oleh kerajaan atas perintah gereja.
C. Sejarah Perkembangan Filsafat pada Zaman
Modern (Eropa)
Istilah modern
itu sendiri tidak jelas apa maksudnya. Lazimnya, istilah modern menampilkan
kesombongan dan arogan, bahkan menampik buah pikiran yang telah lahir sebelumya
disebut juga sebagai suatu pemberontakan yang sedikit dilebih-lebihkan.
Sehingga pemikiran filsafat modern lebih cendrung membicarakan hal-hal antroposentris artinya
mebicarakan apa yang ada dalam dirinya.
Adapun filsafat
modern memiliki ciri khas dan karakter dalam mendapatkan kebenaran, cirinya
adalah kesangsian terhadap kebenaran itu sendiri. Maka dalam mendapatkan
kebenaran yang sejati adalah dengan kesangsian dan keraguan. Sama
halnya dengan kaum pasca-modernisme yang memberontak terhadap pemikiran modern
yang terlalu menghargai rasio.
Mengenai siapa “founding
fathers” Zaman Modern ini, beberapa ahli berpendapat adalah Rene
Descartes dengan pikiran rasionalitas, John Locke dengan pemikiran empirisnya,
Immanuel Kant dengan kritis melihat ketidak sempurnaan. Baik pada Descartes,
Locke maupun Kant mengatakan bahwa, “pengamatan tanpa konsep adalah buta,
sedangkan tanggapan tanpa penglihatan adalah hampa.” Ia berpendapat, bahwa
pengetahuan itu dasarnya adalah pengamatan dan pemikiran.
Untuk melihat
lebih mudah, maka filsafat modern dibagi menjadi beberapa kelompok,
yaitu: (1) rasionalisme, empirisme, dan kritisisme. (2) dialektika idealisme
dan dialektika materialisme, (3)fenomenologi dan eksistensialime, serta (4)
filsafat kontemporer dan pasca-modernisme.
Para pemikir
rasional menuntut kenyataan sejati yang berdasar pada pemikiran, sehingga hukum
pengetahuan sangat jelas. Hal ini bisa berlaku jika hanya pengetahuan
bersifat apriori.Dasar pengetahuan adalah sensasi yang berasal dari
rangsangan-rangsangan yang berdasar pada pengalaman. Menurut kaum kritisisme
(Kant) ilmu pengetahan harus memiliki kepastian sehingga rasionalisme adalah
benar. Ilmu pengetahuan harus mau dan berkembang didasari oleh
kenyataan-kenyataan yang berkembang pula.
Dialektika
idealism merupakan hasil dari pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 –
1831) yang sangat berorientasi pada ilmu sejarah, alam, dan hukum. Hegel menyatakan
bahwa segenap realitas bersifat rasional, dan yang rasional bersifat nyata. Ia
sangat mementingkan rasio, tetapi bukan hanya rasio pada perseorangan,melainkan
rasio pada subjek absolute. Kemudian dealektika Hegel adalah pemikiran yang
berusaha mendamaikan, mengkromomikan daua pandangan atau lebih atau keadaan yag
bertentangan menjadi satu keatuan. Hegel berpendpat bahwa pertentangan adalah
“bapak”segala hal.
Ada tiga hal
dalam fase dielektika, pertama tesis menampilkan lawannya antithesis
sebagai fase kedua. Kemudian, timbullah fase ketiga yang mendamaikan kedua fase
itu, yaitu :”aufgehoben” artinya bermacam-macam di cabut,
ditiadakan, dan tidak berlaku lagi. Hal ini disebut sintesis. Dalam sintesis
terdapat tesis dan antithesis, keduanya diangkat pada satu taraf yang baru.
Jadi tesis dan antithesis tetap ada, hanya lebih sempurna.
Mengenai
materilisme yang muncul “berlawanan” dengan idealisme dapat dikemuakakan
sebagai berikut. Berdasarkan dialektika materialime bahwa seluruh kenyataan
sejati adalah materi, sehingga apapun dapat dijelaskan dalam proses material.
Materialisme terbagi menjadi dua, pertama materialisme yang meneruskan masa “aufklaerung” yang
banyak digunakan dalam meneruskan tradisi ilmu pengetahuan alam atau disebut
materialisme ilmiah. Kedua materialisme filsafat yang merupakan reaksi atas
idealism.
Filsafat
materialism adalah “Hegelian kiri” yang memberikan kritik tajam
atas pemikiran Hegel yang dipandangnya sebagai puncak rasionaisme modern.
Pengikut pertama hegelan kiriadalah Ludwig Feuerbach (1804 – 1872).
Menurutnya dalam rasionalisme selalu ada suasana religious sehingga pengenalan
inderawi kurang mendapat penghargaan yang semestinya.
D. Sejarah Perkembangan Filsafat pada Masa Kontemporer
Pada masa ini
pembicaraan filsafat lebih banyak mebahas dan membicrakan maslahlogocentris (kata/kalimat),
inipun terjadi pada filosof-filosuf eropa, lain halnya dengan di Amerika lebih
bersifat Pragmatis, artinya mereka akan mengambilnya
jika filsafat itu menguntungkan bagi mereka.
Perkembangan pemikiran
filsafat pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran besar: rasionalisme,
empirisme dan idealisme dengan mempertahankan wilayah-wilayah yang luas.
Dibandingkan dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas,
filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan
aliran-aliran baru dalam filsafat tetapi wilayah pengaruhnya lebih tertentu.
Akan tetapi justru menemukan bentuknya (format) yang lebih bebas dari corak
spekulasi filsafati dan otonom.
Aliran-aliran
tersebut antara lain: positivisme ialah Paradigma ilmu
pengetahuanyang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan, fenomenologi yakni
hanyalah suatu gaya berfikir, bukan suatu mazhab filsafat. Pendapat lain
fenomenologi merupakan suatu metode dalam mengamati, memahami, mengartikan dan
memaknakan sesuatu sebagai pendirian atau suatu aliran filsafat.
Aliran lainnya
ada namanya marxisme, eksistensialisme, pragmatisme,
neokantianisme,neo-tomisme, sedangkan dalam aliran filsafat pendidikan
ada namanya Progresivisme (fleksibel artinya lentur tidak
kaku, toleran, terbuka maksudnya ingin mengetahuai dan menyelidiki demi
pengembangan ilmu), esensialisme yakni kembali ke kebudayaan
lama karena banyak melakukan kebaikan bagi manusia, perennialisme memiliki
arti kekal tiada akhir, dan konstruksionalisme yakni berusaha membina suatu
consensus untuk tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.
Menurut A. Comte
(1798-1857), pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu
tahap: (1) teologis, (2) Metafisis, dan
(3) Positif-ilmiah. Bagi era manusia dewasa (modern) ini
pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode positif ilmiah,
artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan
dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti sebagaimana berat,
luas dan isi suatu benda. Dengan demikian Comte menolak spekulasi metafisik,
dan oleh karena itu ilmu sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan Fisika
Sosial sebelum dikenal sekarang sebagai Sosiologi.
Bisa dipahami,
karena pada masa itu ilmu-ilmu alam (Natural sciences) sudah lebih
mantap dan mapan, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam
yang diambil-oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang
berkembang sesudahnya. Pada periode terkini (kontemporer) setelah
aliran-aliran sebagaimana disebut di atas munculah aliran-aliran filsafat,
misalnya : Strukturalisme dan Postmodernisme.
Strukturalisme dengan tokoh-tokohnya misalnya C. Lévi-Strauss, J. Lacan dan M.
Faoucault. Tokoh-tokoh Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida.
Kini oleh para
epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan) dalam perkembangannya
kemudian, struktur ilmu pengetahuan semakin lebih sistematik dan lebih lengkap
(dilengkapi dengan, teori, logika dan metode sain), sebagaimana yang
dikemukakan oleh Walter L.Wallace dalam bukunya The Logic of Science in Sociology.
Dari struktur ilmu tersebut tidak lain hendak dikatakan bahwa kegiatan
keilmuan/ilmiah itu tidak lain adalah penelitian(search dan research).
Demikian pula hal ada dan keberadaan (ontologi/metafisika)
suatu ilmu/sain berkaitan dengan watak dan sifat-sifat dari obyek suatu ilmu
/sain dankegunaan/manfaat atau implikasi (aksiologi) ilmu /sain juga
menjadi bahasan dalam filsafat ilmu.
Belum ada Komentar untuk "Sejarah Singkat Filsafat & TokohNya."
Posting Komentar