Filsafat Islam
Minggu, 19 Januari 2020
2 Komentar
Di Tulis Oleh Dadang Harianto
Pengertian, Latar Belakang, Pokok Masalah dan Peran Filsafat Islam dalam Dunia modern.
A.
Pengertian
Filsafat dan Filsafat Islam
Filsafat
berasal dari kata Yunani yaitu philos dan sophia.
Philos yang berarti cinta dan dalam arti luas yang berarti keinginan.
Sedangkan sophia yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Secara
etimologi filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan atau kebenaran. Hasan
Sadzili mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Jadi,
filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada
hikmah dan kebijaksanaan.
Menurut
Moh. Hatta dan Langeveld, filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang
memiliki titik tekan yang berbeda dalam mendefinisikannya. Oleh karena itu,
beliau membiarkan seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian
menyimpulkannya sendiri. Plato menyebut Socrates sebagai seorang
philosophos (filosof), yakni pecinta kebijaksanaan. Sebelum Socrates, ada suatu
kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti para
cendekiawan. Plato mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang
segala yang ada. Menurut Aristoteles filsafat adalah menyelidiki sebab dan azas
segala benda. Karena itu, Aristoteles menamakan filsafat dengan “teologi” atau
“filsafat pertama”. Karena itu Aristoteles menyimpulkan bahwa setiap gerak di
alam ini digerakkan oleh yang lain, dari hasil pemikirannya secara
komprehensif sesuatu yang bergerak tentu tidak terlepas dari sesuatu yang
bermateri tentulah dua yang berpotensi untuk bergerak.
Al-Farabi
mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang alam yang maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Menurut Sultan Takdir
Alisjahbana berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf. Fuad
Hasan berpendapat, bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal
dalam arti mulai dari radixnya sesuatu gejala, dari akarnya sesuatu yang hendak
dipermasalahkan. Dan dengan jalan penjagaan yang radikal itu filsafat berusaha
untuk sampai kepada kesimpulan yang universal.
Filsafat
adalah pandangan yang menyuluruh dan sistematis, dikatakan begitu karena
filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan suatu pandangan yang dapat
menembus sampai dibalik pengetahuan itu sendiri. Dikatakan sistematis karena
filsafat menggunakan metode berfikir secara sadar, teliti, teratur,
serta sesuai dengan hukum-hukum yang ada. Adapun filsafat Islam adalah
pemikiran-pemikiran filsafat yang memberikan kontribusi pada Islam dan
sebaliknya Islam menggunakan filsafat untuk memperkuat prinsip-prinsip agama.
Salah satu prinsip dalam filsafat adalah berpikir radikal, yang berujung pada
pengakuan bahwa alam ini disebabkan oleh suatu zat yang tidak tergantung
siapapun. Dalam bahasa agama zat tersebut adalah Tuhan.[1]
B.
Latar
Belakang Lahirnya Filsafat Islam, dan Tokoh-tokohnya
Sejarah
filsafat Islam tidak dapat dilepaskan dari filsafat Yunani. Filsafat Yunani
dikembangkan oleh Alexander Agung yang sering juga dikenal Iskandar Zulkarnain.
Alexander Agung adalah Raja Macedonia yang juga merupakan murid dari
Aristoteles. Cita-cita Alexander ingin menguasai Mesir karena Mesir dianggap
tempat yang strategis untuk mengembangkan kekuasaan dan peradaban. Ternyata
keinginannya terwujud, sehingga dia tidak hanya menguasai Mesir, tetapi juga
Syiria dan sebagian India.
Alexander
mencoba memperkenalkan filsafat dan budaya Yunani di daerah jajahannya dengan
cara menganjurkan para prajurit dan intelektual Yunani untuk mengawini
penduduk setempat sehingga mereka betah hidup di tempat yang dikuasai.
Transformasi inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan filsafat dan
peradaban Yunani di luar wilayah Yunani. Karena itu, tidak heran wilayah yang
dikuasainya lebih maju dibandingkan dengan Yunani sendiri. Peradaban Yunani
lebih berkembang di Mesir, Syiria dan Yudinsapur. Perkembangan peradaban
filsafat Yunani di luar Yunani disebut Hellenisme.
Hellenisme
memiliki pengaruh masuknya filsafat dalam Islam. Sebab, ketika Islam berhasil
menaklukan Mesir, Syiria dan Baghdad, wilayah tersebut sudah maju oleh
peradaban Yunani. Pada masa al-Ma’mun, Harun al-Rasyid dan al-Amin berusaha
mengembangkan tradisi tersebut dengan memberikan dorongan dan intensif yang
cukup besar bagi perkembangan filsafat dan ilmu. Jadi dapat dikatakan bahwa
perhatian khalifah yang begitu besar bagi perkembangan ilmu dan filsafat
merupakan salah satu faktor peradaban Islam maju dan dapat dibanggakan.
Disamping itu, ayat-ayat Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk selalu
memaksimalkan daya akalnya. Perjumpaan tradisi Islam dengan tradisi-tradisi
yang sudah maju merupakan faktor lain yang cukup dominan dalam memberikan
kontribusi positif bagi kemajuan ilmu dan filsafat di dunia Islam. Kemajuan
Islam relatif mudah diraih karena bibit kemajuan sudah berkembang di wilayah
tersebut. Begitu juga filosof dan ilmuwan muslim bermunculan seiring dengan
kemajuannya.[2]
C.
Pokok-pokok
yang dibahas dalam filsafat Islam
1. Emanasi
Emanasi
adalah teori yang dikemukakan oleh Plotinus, yang terkenal dengan sebutan
aliran Neo-Platinisme. Prinsip teori emanasi adalah penjelasan tentang
munculnya yang banyak dari yang satu atau terjadinya alam dari sumber yang
pertama. Dalam bahasa agama sering dinamakan dengan penciptaan, yakni bagaimana
Tuhan menciptakan alam ini. Proses ini merupakan proses otomatis tanpa kehendak,
bagaikan munculnya panas dari api dan cahaya dari matahari. Persoalan tentang
terciptanya alam merupakan persoalan parenial yang sampai saat ini belum
terpecahkan secara baik. Al-Farabi, Filosof muslim yang terkenal menguraikan
teori emanasi secara lebih rinci. Al-Farabi menggunakan teori emanasi, yang
dalam bahasa arab disebut nazhariyat Al-faidh (teori limpahan).
Karena sesuatu kalau sudah sempurna akan melimpah, bagaikan gelas jika terus
diisi dengan air akan melimpah. Begitu juga Tuhan yang maha sempurna akan
melimpah dari dirinya kesempurnaan juga.
2. Jiwa/ruh
Jiwa
dalam bahasa arab disebut dengan nafs atau ruh, sedangkan dalam
bahasa inggris soul atau spirit adalah unsur immateri dalam
diri manusia. Jiwa tidak dapat dipisahkan dari tubuh, begitu juga sebaliknya
karena tanpa salah satu dari keduanya, seseorang tidak dapat dikatakan manusia.
Kendati jiwa adalah unsur pokok dalam diri manusia, persoalan hakikat jiwa,
hubungan jiwa dengan badan dan keabadian jiwa tidak mudah dipecahkan. Karena
itu, tidak heran para ahli agama, filosof, sufi, dan psikolog sampai sekarang
masih terus berusaha mengkaji dan mendalami tentang eksistensi jiwa. Dalam
kitab-kitab suci agama pun, ungkapan jiwa termasuk bahasan yang penting karena
terkait dengan kepercayaan pokok, yaitu percaya akan hari akhirat, yang
didalamnya terkandung makna keabadian jiwa.
Dalam
Al-Qur’an, jiwa diungkapkan denga kata nafs atau ruh, yang artinya
tidak selalu sama karena nafs sendiri tidak satu artinya, ada yang
berarti jiwa, hati, dan jenis. Sedangkan ruh yang berarti jiwa, malaikat
jibril, dan wahyu. Kendati terdapat persamaan arti antara nafs dan
ruh, dalam mu’jam Al-wasith, ruh dan nafs dibedakan. Ruh adalah yang
menghidupkan nafs dan esensi ruh lebih halus daripada nafs.
Pengertian ini tampaknya diperkuat oleh M. Quraish Shihab, yang mengatakan
bahwa nafs dalam Al-Qur’an menggambarkan totalitas manusia atau
kepribadian seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Dia mengutip
pendapat Abdul Karim Al-Khatib, salah seorang ulama islam kontemporer, yang
cenderung memahami jiwa sebagai suatu hasil perpaduan antara jasmani dan ruhani
manusia, perpaduan yang kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal
perasaan, emosi, dan pengetahuan, serta dikenal dan dibedakan dengan manusia lainnya.
Sedangkan Ibn Katsir berpendapat bahwanafs dan ruh adalah sama, yaitu zat
yang halus menjalar didalam tubuh, seperti mengalirnya air dalam akar
pohon-pohonan.
Ibnu
Miskawih, filosof etika, berpendapat bahwa jiwa adalah substansi sederhana,
tidak dapat diindera, jiwa bukanlah tubuh, bukan juga bagian dari tubuh, dan
bukan pula materi. Jiwa itu satu dan lebih luas dari pada materi karena jiwa
dapat menerima sesuatu yang berlawanan pada saat yang bersamaan, seperti warna
putih dan hitam, sedangkan tubuh tidak dapat menerima kedua warna itu
bersamaan. Jiwa juga tidak dapat diukur dengan ukuran panjang atau lebar
sebagaimana mengukur benda karena jiwa tidak akan berubah lebih panjang atau
lebih lebar.
Ibnu
Sina meyakini benar bahwa jiwa adalah unsur yang berbeda dari tubuh dan
memiliki karakter spesifik. Untuk mejelaskan perbedaan tersebut dan sekaligus
memperkuat adanya jiwa. Ibn Sina mengemukakan empat argumen, yaitu:
1) Argumen
psiko fisik, yaitu setiap benda harus tunduk pada hukum alam, contohnya batu
harus jatuh kebawah dan tidak bergerak, tetapi ternyata manusia adalah benda
yang bisa bergerak. Gerak manusia ini tentu tidak digerakkan oleh tubuh itu
sendiri, tetapi ada unsur luar yang menggerakkannya, yang disebut jiwa.
2) Aku
dan fenomena psikologis, yaitu ketika seseorang mengatakan aku mau tidur, maka
yang dimaksudnya bukan kakinya bergerak dan matanya tertutup, tetapi yang
dimaksud aku adalah keseluruhan dirinya yang satu dan itu adalah jiwa.
3) Argumen
kontinuitas, yaitu pengetahuan seseorang selalu sambung-menyambung dari yang
dulu , sekarang, dan yang akan datang tanpa terputus. Seseorang dapat mengingat
masa lalu, dan berada pada saat ini, kemudian dapat memprediksi masa yang akan
datang, yang semua itu menunjukkan adanya aktivitas yang dilakukan oleh unsur
selain badan, yang disebut jiwa.
4) Argumen
manusia terbang, yaitu diandaikan ada seseorang yang lahir dengan kesempurnaan
akal dan tubuh kemudian ditutup matanya, sehingga tidak dapat melihat kemudian
diterbangkan di udara kosong tanpa bersentuhan dengan benda apapun, maka dapat
dikatakan bahwa jiwa itu ada karena dia dapat mengkhayalkan adanya kaki dan
tangan. Jelas bahwa khayalannya tentang kaki dan tangan bukan berasal dari
indera, tetapi unsur yang lain, yaitu jiwa.
Ibnu
Sina meyakini bahwa jiwa akan kekal setelah mati karena jiwa manusia berasal
dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Jiwa tidak akan mati ketika kematian
tubuh karena jiwa adalah unsur yang sama sekali berbeda dengan tubuh dan tidak
mungkin jiwa tergantung pada tubuh. Hubungan antara tubuh dan jiwa bukanlah
hubungan yang kausal dan keharusan, tetapi bagaikan hubungan tuan dan hamba,
yaitu tuan tidak terpengaruh dengan perubahan yang menimpa hambanya. Karena
itu, jiwa tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada badan karena tidak
hanya mendapat balasan didunia saja, tetapi nanti pada hidup kedua di akhirat.
Jika jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan,
maka dia akan mengalami kesenangan untuk selamanya, dan jika dia berpisah
dengan badan dengan keadaan yang tidak sempurna, karena waktu bersatu dengan
tubuh dipengaruhi hawa nafsu, maka ia akan hidup dalam keadaan menyesal untuk
selamanya.
3. Akal
Permasalahan
akal merupakan bagian yang menjadi pembahasan tidak saja dalam filsafat islam,
tetapi juga dalam teologi dan bahkan hampir di semua aspek dalam bidang
keilmuan islam. Dalam fiqih umpamanya, akal merupakan bagian yang amat pokok
untuk berijtihad karena setelah Al-Qur’an dan hadits, akal lah yang berperan menentukan
suatu hukum. Hadits nabi juga menegaskan bahwa jika ditemukan penyelesaian
suatu persoalan dalam Al-qur’an dan hadits, maka hendaklah berijtihad dengan
akal. Karena itu, wajar kemudian akal merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pembahasan bagian keilmuan dalam islam.
Peranan
akal dalam teologi mu’tadzilah amat besar jika dibandingkan dengan Asy-Ariyah.
Bagi mu’tadzilah manusia sudah harus melakukan kebaikan dan meninggakan
keburukan kendati belum diutus rasul karena Tuhan memberi daya akal kepada
manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Menurut
Al-Kindi, akal terbagi atas empat: pertama akal yang selalu bertindak; kedua,
akal yang secara potensial berada dalam ruh; ketiga, akal yang berubah di dalam
ruh dari daya menjadi aktual; dan keempat, akal yang kita sebut akal kedua.
Akal
menurut Al-Razi merupakan limpahan dari Tuhan. Akal diciptakan oleh Tuhan untuk
menyadarkan jiwa yang terlena dalam fisik manusia, bahwa tubuh itu bukanlah
tempat yang sebenarnya, serta bukan tempat kebahagiaan dan tempat abadi.
Kesenangan dan kebahagian yang sebenarnya adalah melepaskan diri dari materi
dengan jalan berfilsafat.
4. Teori
kenabian
Kenabian
merupakan salah satu pembahasan yang dibicarakan oleh para filosof Islam karena
persoalan ini terkait erat dengan pelimpahan dari Akal Aktif (Jibril) kepada
para nabi dan filosof. Jika para nabi mendapatkan wahyu dari jibril, maka
filosofpun[6] dapat berhubungan dengan jibril yang
dalam istilahnya disebut Akal Aktif. Persoalan berikutnya adalah jika nabi dan
filosof sama-sama dapat berhubungan dengan Jibril, apa perbedaan nabi dan
filosof. Dalam kata lain apakah kedudukan nabi dan filosof sama atau berbeda.
Kalau sama di mana letak persamaannya jika berbeda dimana letak perbedaannya.
Dalam
beberapa hal nabi dan filosof sama, yakni dapat berhubungan dengan Jibril, baik
ketika bangun maupun ketika tidur. Sedangkan filosof hanya dapat berhubungan
dengan Jibril hanya ketika tidur saja. Di samping itu, nabi berhubungan dengan
perantara hidayah, sedangkan filosof lewat perantara akal mustafad. Persoalan
inilah yang kemudian dibicarakan oleh para filosof-filosof muslim.
Menurut
Al-Farabi, dasar setiap agama langit adalah wahyu dan inspirasi. Seorang nabi
adalah seseorang yang dianugerahi kesempatan untuk dapat langsung berkomunikasi
dengan Tuhan dan diberi kemampuan untuk menyatakan kehendak-Nya. Islam,
sebagaimana agama-agama langit lainnya, mempunyai Tuhan sebagai penguasa.
Al-Qur’an mengatakan: “ Ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan Tuhan
Yang Maha Kuasa telah mengajarnya.” (QS. 53: 4-5).
Al-Razi
adalah seorang tokoh filsafat yang kontroversial yang mengikuti aliran
rasionalis murni. Oleh karena itu, ia berpandangan manusia tidak membutuhkan
adanya nabi yang tugasnya mengatur kehidupan manusia agar teratur. Manusia bisa
teratur dalam menata kehidupannya dengan adanya akal yang diberikan oleh Tuhan
kepada manusia sebagai karunia yang terbesar. Jadi, menurutnya hanya dengan
akal-lah manusia dapat hidup teratur tanpa nabi sekalipun.
Adapun
menurut Al-Thusi, manusia mempunyai kebebasan dalam bertindak dan kelak akan
dibangkitkan kembali tubuhnya. Setelah menetapkan kebebasan berkehendak dan
kebangkitan kembali tubuh, Al-Thusi lalu menetapkan perlunya kenabian dan
kepemimpinan spiritual. Pertentangan minat serta kebebasan individu
mengakibatkan tercerai-berainya kehidupan sosial, dan ini memerlukan aturan
suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia.
Pendapat
tersebut membawa konsekwensi beraganya minat serta dimungkinkannya terjadi
kekacauan dalam kehidupan sosial. Untuk itu diperlukan aturan suci dari Tuhan
untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karena Tuhan berada di luar jangkauan
indera, maka Dia mengutus nabi untuk menuntun manusia. Jadi kehadiran nabi
sangat diperlukan manusia, termasuk dalam hal kepemimpinan spiritual untuk
melanjutkan aturan suci yang ditetapkan para nabi.
5. Eskatologi
Iman
pada hari akhirat dalam Islam merupakan rukun iman setelah iman kepada Tuhan.
Jika seseorang tidak mengimani kebangkitan di hari akhirat, maka dia berhak di
cap kafir. Al-Ghazali, yang terkenal dengan julukan hujjatul
Islam. Mencap filosof kafir karena filosof mengimani kebangkitan ruhani
dan menolak kebangkitan jasmani. Persoalannya adalah apakah benar filosof itu
kafir sebagimana dituduhkan Al-Ghazali. Kalau benar apakah kafir mereka sama
dengan kafir musyrik. Persoalan inilah yang kemudian mendapat reaksi cukup
keras dari Ibn Rusyd, sehingga menulis buku khusus, yang berjudul Tahafut
Al-Tahafut untuk menjawab tuduhan Al-Ghazali tersebut.
Persoalannya
kemudian adalah bagaimana sebenarnya posisi Al-Ghazali yang menggugat para
filosof dan bagaimana juga posisi Ibn Rusyd dalam menjawab tuduhan Al-Ghazali
tersebut. Bentuk perdebatan dengan argument masing-masing inilah yang cukup
menarik untuk dikaji dan didalami karena kedua tokoh ini cukup memiliki
pengaruh besar dalam pola pemikiran umat Islam sampai sekarang. Karena itu, ini
tidak bertujuan untuk menilai mana yang benar dan salah, tetapi untuk
menjelaskan secara proporsional dan objektif suatu perdebatan yang berkualitas.
Penilaian diserahkan kepada pembaca mana yang dianggapnya benar atau salah.
6. Kebaikan
dan kejahatan
Adanya
kejahatan di jagad raya merupakan masalah yang tidak henti-hentinya
diperdebatkan, terutama oleh agamawan dan ilmuwan. Masalah yang mendasar,
terutama bagi teisme, adalah kenapa kejahatan itu ada, padahal Tuhan Pencipta,
maha kuasa, dan sumber kebaikan. Salah satu susunan argument ateisme menolak
teisme adalah sebagai berikut :
a. Jika
Tuhan maha baik, tentu Dia akan membasmi kejahatan
b. Jika
Tuhan maha kuasa, tentu Dia mampu menghancurkan kejahatan
c. Tetapi
Kejahatan belum terhapus
d. Karena
itu, Tuhan tidak ada.
7. Alam
antara Qadim dan Baharu
Perbincangan
mengenai penciptaan alam dan sifat alam merupakan salah satu hal yang krusial,
dalam teologi Islam maupun dalam filsafat Islam. Sebab jika alam qadim
sedangkan Tuhan juga qadim, maka tentu ada 2 yang qadim. Dua yang qadim
bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang menegaskan bahwa hanya Tuhan
satu-satunya zat yang qadim, selain Tuhan adalah baharu dan ciptaan-Nya.
Perdebatan inilah yang muncul di kalangan filosof karena mereka di tuduh
memprakarsai alam qadim. Apakah benar alam qaim menurut filosof atau tidak
bahkan mereka yang menuduh filosof mengatakan alam qadim salah memahami
pandangan filosof.
Menurut
Al-Kindi, Tuhan menciptakan alam dari tidak ada karenanya alam adalah baharu.
Penciptaan alam adalah proses dari yang tertinggi sampai yang terendah. Akal
adalah yang tertinggi dan materi adalah yang terendah. Namun, dalam pemikiran
Al-Kindi tidak jelas apakah dia menganut teori emanasi tentang penciptaan atau
tidak karena tidak ada tulisannya yang terperinci tentang itu.
8. Pengetahuan
Tuhan
Salah
satu persoalan yang diperdebatkan kalangan teolog da filosof adalah mengenai
pengetahuan Tuhan apakah Tuhan mengetahui hal-hal yang terperinci, seperti
apakah Tuhan mengetahui semut hitam berjalan di malam gelap diatas batu hitam.
Persoalannya adalah jika Tuhan mengetahui hal-hal yang terperinci, maka Tuhan
amat sangat sibuk dan apa gunanya Tuhan mengetahui semua itu. Jika Tuhan tidak
mengetahui tentu di samping terkesan Dia tidak mengetahui, juga tidak sesuai
dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan Tuhan Maha Mengetahui.
Persoalan
inilah yang diperdebatkan secara panjang lebar antara teolog dan filosof. Abu
Barakat Al-Bagdadi berkomentar tentang persoalan tersebut, “Para pemikir
kontemporer dan tradisional berbeda pendapat tentang pengetahuan Tuhan mengenai
hal-hal yang terperinci. Sebagian mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak
mengetahui selain zat dan sifat-Nya. Adapun sebagian yang lain mengatakan bahwa
Tuhan mengetahui zat dan juga semua makhluk-Nya dalam berbagai keadaan, baik yang
sekarang maupun yang akan datang. Sisanya berpendapat bahwa Tuhan mengetahui
zat sifat-sifat global, dan wujud yang abadi lewat zat-Nya. Bagi pendapat yang
terakhir ini Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang terperinci dan berbagai
perubahan di jagad raya.
9. Hukum
kausalitas
Teori
kausalitas adalah salah satu sumbangan terbesar filsafat pada ilmu. Ilmu
menjadikan teori kausalitas sebagai dasar pijakannya. Ilmu kesehatan umpamanya,
harus taat azaz pada hukum sebab akibat. Kalau obat tertentu tidak memberi kepastian
penyembuhan bagi penyakit tertentu, maka akan kacau sistem pengobatan. Karena
itu, obat harus mencapai tingkat kepastian sebagai penyembuh suatu penyakit.
Peristiwa-peristiwa di alam juga tidak terlepas dari hukum sebab akibat,
seperti api membakar dan air membasahi.
Teori
kausalitas sudah dikembangkan sejak zaman Yunani. Aristoteles mempertegas
keberadaan teori kausalitas dengan menguraikan bahwa ada empat macam sebab,
yaitu sebab materi, bentuk, efisisen, dan tujuan. Keempat jenis sebab tersebut
saling terkait dan bersatu. Sebab materi dan bentuk ada dalam benda itu
sendiri, sedangkan sebab efisien dan tujuan berada di luar benda. Keempat sebab
berlaku, baik bagi kejadian alam maupun bagi kejadian yang disebabkan oleh
manusia. Aristoteles bermaksud bahwa dengan penjelasan ini ia memberikan daftar
komplit yang memuat semua faktor yang dapat menyebabkan suatu kejadian. Dalam
suatu kejadian keempat jenis sebab itu dapat dibedakan, paling tidak secara
logis.
10. Ruang
dan waktu
Dalam
sistem Aristoteles, alam terbatas oleh ruang, tetapi tidak terbatas oleh waktu.
Hal itu dikarenakan gerak alam seabadi Penggerak Tak Tergerakkan (Unmovable
Mover). Keabadian alam ini ditolak dalam pemikiran Islam, karena alam adalah
diciptakan. Untuk itu para filosof muslim mencari jalan keluarnya yang sesuai
dengan agama dan permasalahan tersebut. Tokoh filosof Muslim yang dianggap
ateis karena sependapat dengan Aristoteles bahwa alam ini kekal adalah Ibn Sina
dan Ibn Rusyd.
Al-Kindi
memecahkan masalah tersebut secara radikal dengan gagasan tentang
ketakterhinggaan secara matematik. Ia mengatakan bahwa alam ini tidak kekal.
Benda-benda fisik terdiri atas materi dan bentuk, dan bergerak di dalam ruang
dan waktu. Waktu dan ruang adalah hal yang terbatas, karena keduanya tidak aka nada
kecuali dengan keterbatasan. Waktu bukanlah gerak, tetapi bilangan pengukur
gerak, karena waktu tak lain adalah yang dahulu dan yang akan datang. Bilangan
terdiri atas dua macam, yaitu tersendiri dan berkesinambungan. Oleh karena itu,
waktu adalah berkesinambungan yang dapat ditentukan, yang berproses dari dulu
hingga kelak.[3]
D.
Peran
Filsafat Islam dalam Dunia Modern
1. Menjawab
Tantangan Kontemporer
Pada
saat ini, dalam pandangan Beliau (Mulyadhi Kartanegara), umat Islam telah
dilanda berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan
ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari
berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama
metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak
dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace
(w. 1827), kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi
hipotesa.Dan ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotetsa
tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk
kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas
keteraturan alam, tetapi adalah hukukm alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah
diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam. Demikian juga dalam bidang
biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewanhewan, karena menurut
Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam
sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection).
Menurutnya
hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan tidak
ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan
engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah
agen yang cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan
telah berhenti menjadi pencipta hewan. Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941)
telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya bukan Tuhan yang menciptakan
manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan, sebagai konsep,
muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi tantangan
eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan internalnya,
ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil
Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah
Masyarakat itu sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial
yang ada.
Dengan
demikian jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki
tempat yang spesial, bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah. Tantangan
yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, rkologi
dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh kita biarkan tanpa kritik,
atau respons kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab
tantangan-tantangan tersebut secara rasional dan elegan, dan tidak semata-mata
bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah beliau melihat bahwa filsafat
Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.
2. Filsafat
sebagai Pendukung Agama
Berbeda
dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan
bagi agama, beliau (Mulyadhi Kartanegara) melihat filsafat bisa kita jadikan
sebagai mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat
serangan yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa
bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan
sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena
menurut hemat saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara
ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa
Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin
bahwa Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.
Selama
ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya,
memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat
Islam, melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar
metafisiknya. Tetapi kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan
mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial
untuk menjadi mitra filsafat atau bahwan pendukung agama. Di sini filsafat bisa
bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan
serangan ilmiah-filosofis seperti yang saya deskrisikan di atas.
Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya
dapat dijawab dengan berbagai argumen adanya Tuhan yang telah banyak
dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dll.,
seperti yang telah saya jelaskan antara lain dalam buku saya Menembus Batas
Waktu. Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori pewahyuan yang
telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi, Ibn
Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.

Request prenk renaisans, babak baru peradaban manusia.
BalasHapusSiaaap Pren...
Hapus