Cabang Filsafat.
Rabu, 15 Januari 2020
Tambah Komentar
A.
Ontologi
Istilah
ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti “yang berada”,
dan logi berarti ilmu
pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran
tentang keberadaan.
Pertanyaan yang berkaitan dengan Ontologi yakni pertanyaan yang mempertanyakan
tentang Apa?[1]
Goclenius
pada tahun 1636 M. untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat
metafisis. Dalam perkembanganya Cristian Wolff membagi metafisika menjadi dua,
yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan
sebagai istilah lain dari ontologi.[2]
Bidang
pembicaraan teori hakikat luas sekali, segala yang ada yang mungkin ada, yang
boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat
pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori
tentang keadaan. Hakikat ialah realitas, realitas ialah kerealan, real artinya
kenyataan yang sebenarnya, jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya,
keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu,
bukan keadaan yang meberubah.[3]
Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang
membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Apa sebenarnya hakiakt dari sesuatu yang
ada? Ada empat macam aliran filsafat ontology yang mencoba memberikan jawaban
atas persoalan di atas:
1.
Materialisme
Istilah materialisme dapat diberi defenisi dengan
beberapa cara, diantaranya. Pertama,
materialism adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri
dan merupakan unsue-unsur yang membentuk alamdan bahwa akal dan kesadaran (consciousness) termasuk didalamnya segala proses fisikal merupakan mode materi
tersebut dan dapat disederhanakan menjadi unsur-unsur fisik. Kedua, Bahwa doktrin alam semesta dapat
ditafsirkan sepenuhnya denan sains fisik.
Doktrin tersebut, dijelaskan sebagai energisme yang
mengembalikan segala sesuatu kepada bentu energi, atau sebagai suatu bentuk
dari positivisme yang memberi tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal
seperti Ultimate neture of reality
(realita yang paling tinggi; Allah).
Materialisme modern mengatakan bahwa materi itu ada
sebelum jiwa (mind) dan dunia
material adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia adalah yang
kedua. Materialisme beranggapan bahwa hakikat benda adalah benda itu sendiri.
Hakikat kayu adlah kayu itu sendiri. Hakikat air adalah air itu sendiri, begitu
pula yang lainnya.
2. Idealisme
Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang
sangat berbeda dalam pengertian sehari-hari. Secara umum kata itu berarti. Pertama, seorang yang menerima ukuran
moral yang tinggi, estetika estetika dan agam serta menghayatinya. Kedua, orang yang dapat menuliskan dan
menganjurkan sebuah rencana atau program yang belum ada.
3. Dualisme
Dualisme (dualism) berasal dari
kata Latin yaitu duo (dua). Dualisme adalah ajaran yang
menyatakan realitas itu terdiri dari dua substansi yang berlainan dan bertolak
belakang. Masing-masing substansi bersifat unik dan tidak dapat direduksi,
misalnya substansi adi kodrati dengan kodrati, Tuhan dengan alam semesta, roh
dengan materi, jiwa dengan badan dll. Dan dalam Al-Qur’an dijelaskan
bahwa,
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Ada pula yang mengatakan bahwa dualisme adalah
ajaran yang menggabungkan antara idealisme dan materialisme,dengan mengatakan
bahwa alam wujud ini terdiri dari dua hakikat sebagai sumber yaitu hakikat
materi dan ruhani. Dapat dikatakan pula bahwa dualisme adalah paham yang
memiliki ajaran bahwa segala sesuatu yang ada, bersumber dari dua hakikat atau
substansi yang berdiri sendiri-sendiri. Orang yang pertama kali
menggunakan konsep dualisme adalah Thomas Hyde (1700), yang
mengungkapkan bahwa antara zat dan kesadaran (pikiran) yang berbeda secara
subtantif. Jadi adanya segala sesuatu terdiri dari dua hal yaitu zat dan
pikiran.
Yang termasuk dalam aliran ini adalah Plato (427-347
SM), yang mengatakan bahwa dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu
berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea.
Sebagai bayangan, hakikatnya hanya tiruan dari yang asli yaitu idea. Karenanya maka
dunia ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab hanyalah merupakan tiruan yang
tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang
yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia
idea).
Lebih lanjut Plato mengakui adanya dua substansi yang
masing-masing mandiri dan tidak saling bergantung yakni dunia yang dapat
diindera dan dunia yang dapat dimengerti, dunia tipe kedua adalah dunia idea
yang bersifat kekal dan hanya ada satu. Sedang dunia tipe pertama adalah dunia
nyata yang selalu berubah dan tak sempurna. Apa yang dikatakan Plato dapat
dimengerti), bahwa dia membedakan antara dunia indera (dunia bayang-bayang) dan
dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio manusia).
Rene Descartes (1596-1650 M) seorang filsuf Prancis,
mengatakan bahwa pembeda antara dua substansi yaitu substansi pikiran dan
substansi luasan (badan). Jiwa dan badan merupakan dua sebstansi terpisah
meskipun didalam diri manusia mereka berhubungan sangat erat. Dapat
dimengerti bahwa dia membedakan antara substansi pikiran dan substansi keluasan
(badan). Maka menurutnya yang bersifat nyata adalah pikiran. Sebab dengan
berpikirlah maka sesuatu lantas ada, cogito ergo sum! (saya berpikir
maka saya ada). Leibniz (1646-1716) yang membedakan antara dunia yang
sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Immanuel Kant (1724-1804) yang membedakan
antara dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (noumena). [4]
4. Agnoticisme
Agnostisisme adalah suatu pandangan filsafat bahwa
suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan
teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat
diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik
mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif
pengetahuan tentang "Yang-Mutlak"; atau, dapat dikatakan juga bahwa
walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada
dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi secara
rasional.
Agnostisisme adalah pandangan bahwa manusia saat ini
tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan dan/atau alasan untuk memberikan
landasan secara rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa
dewa/tuhan baik melakukan atau tidak ada. Dalam kedua hal ini maka agnostikisme
mengandung unsur skeptisisme (paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti,
meragukan).
Agnostisisme berasal dari bahasa Yunani gnostein
("tahu; mengetahui") dan a ("tidak"). Arti harfiahnya
"seseorang yang tidak mengetahui".
Definisi Agnostitisme, Agnostik adalah seseorang yang
tidak percaya atau mendustakan keberadaan Tuhan/dewa, sedangkan teis dan ateis
masing-masing adalah orang percaya dan tidak percaya akan Tuhan, tetapi bahwa
dalam agnostisisme arti sempit adalah pandangan bahwa akal manusia tidak mampu
secara rasional membenarkan keyakinan tentang apa yang dilakukan Tuhan atau
juga apakah Tuhan itu ada atau tidak.
B. Epistemologi
Manusia diciptakan oleh Allah dilengkapi dengan
pengetahuan, yang denganya mereka mampu melakukan penalaran sehingga berbeda
dengan mahluk lain. Dalam Epistemologi pertanyaan yang sering muncul yakni
pertanyaan Bagaimana? dan cara. Manusia mengembangkan pengetahuannya dalm
rangka memenuhi kebutuhaan-kebutuhannya. Ia memikirkan hal-hal baru, menjelajah
ufuk baru, dan selanjutnya melakukan penemuan-penemuan baru. Pengetahuan
manusia dapat berkembang dikarena dua hal utama. Pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan
informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Keedua, manusia mempunyai kemampuan
berpikir menurut alur kerangka pikir tertentu. Karena itu, manusia mampu
mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap.[5]
Epistemologi berasal dar bahasa yunani yaitu “Epistme” dan dari bahasa Inggris “Knowladge” yang artinya pengetahuan,
dan “Logi” yang artinya teori atau
ilmu. Jadi bisa disimpulkan bahawa Epistemologi
itu berarti teori atau ilmu pengetahuan.[6]
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa,
“Dan
perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu”.
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini,
diantaranya :
1. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang
berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia
memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata
yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es
dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman
modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja
lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan,
lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki
pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama
sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks
(sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada
pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan
pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan
yang benar.
Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan
aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah
karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil,
sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat
dari dekat benda itu besar.
2. Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal
adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan
diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan
melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes
(1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat
scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan
oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode
baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu,
dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir
itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sum (saya
berpikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah
yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang
terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran
yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah
pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai
pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap
sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme
ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam
bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya
digunakan untuk mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat,
rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun
teori pengetahuan.
3. Positivisme
Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia
menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam
memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat
dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen.
Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak
kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan
neraca atau timbangan misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar
benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti
empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada
dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran
ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.
4. Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia
menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang
selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak
pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami
suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal
itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami
sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang
berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson
mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu
intuisi.
5. Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru
dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan
antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant
(1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant
mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant
mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan
sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme),
tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis.
Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak
mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.
6. Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa
hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh.
Istilah idealisme diambil dari kata ideayaitu suatu yang hadir dalam jiwa.
Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri.
Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung
pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen
epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan
dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa
pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari manusia denganakalnya.[7]
C. Aksiologi
Aksiologi membahas tentang masalah nilai. Dalam
Aksiologi pertanyaan yang sering muncul adalah pertanyaan Mengapa? Dan juga
mempertanyakan Guna. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios
artinya nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi
artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status
metafisik dari nilai.
Aksiologi sebagai cabang filsafat ialah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut
pandangan kefilsafatan.
Nilai Intrinsik, contohnya pisau dikatakan baik karena
mengandung kualitas-kualitas pengirisan didalam dirinya, sedangkan nilai
instrumentalnya ialah pisau yang baik adalah pisau yang dapat digunakan untuk
mengiris, jadi dapat menyimpulkan bahwa nilai Instrinsik ialah nilai yang yang
dikandung pisau itu sendiri atau sesuatu itu sendiri, sedangkan Nilai
Instrumental ialah Nilai sesuatu yang bermanfaat atau dapat dikatakan Niai
guna.
Aksiologi terdiri dari dua hal utama, yaitu:
Etika : bagian filsafat nilai dan penilaian yang
membicarakan perilaku orang. Semua prilaku mempunyai nilai dan tidak bebas dari
penilaian. Jadi, tidak benar suatu prilaku dikatakan tidak etis dan etis. Lebih
tepat, prilaku adalah beretika baik atau beretika tidak baik.
Estetika : bagian filsafat tentang nilai dan penilaian
yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek. Indah dan jelek adalah
pasangan dikhotomis, dalam arti bahwa yang dipermasalahkan secara esensial
adalah pengindraan atau persepsi yang menimbulkan rasa senang dan nyaman pada
suatu pihak, rasa tidak senang dan tidak nyaman pada pihak lainnya.
Aksiologi memberikan manfaat untuk mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berjalan pada jalur kemanusiaan.[8] Oleh karena itu daya kerja aksiologi ialah :
Aksiologi memberikan manfaat untuk mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berjalan pada jalur kemanusiaan.[8] Oleh karena itu daya kerja aksiologi ialah :
1.
Menjaga
dan memberi arah agar proses keilmuan dapat menemukan kebenaran yang hakiki,
maka prilaku keilmuan perlu dilakukan dengan penuh kejujuran dan tidak
berorientasi pada kepentingan langsung.
2.
Dalam
pemilihan objek penelahaan dapat dilakukan secara etis yang tidak mengubah
kodrat manusia, tidak merendahkan martabat manusia, tidak mencampuri masalah
kehidupan dan netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik, arogansi
kekuasaan dan kepentingan politik.
3.
Pengembangan
pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup yang memperhatikan kodrat
dan martabat manusia serta keseimbangan, kelestarian alam lewat pemanfaatan
ilmu dan temuan-temuan universal.[9]
[7]Bani
Ahmad Saebani, 2008. filsafat umum
dari metologi sampai teofilosofi.( Pustaka Setia, Bandung), h. 206
[9] Soejono Soe Margono. Pengantar Filsafat Louis O.Kattsoff.
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1986), hlm. 327
Belum ada Komentar untuk "Cabang Filsafat."
Posting Komentar